Sampah : Berkah atau Petaka?

Desakan kehidupan Modern tampaknya selalu beriringan dengan resiko tercemarnya dan menurunnya kualitas lingkungan. Sampah dan limbah merupakan hasil dari kemajuan peradaban manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Berbarengan dengan peningkatan kebutuhan manusia, produksi sampah dan limbah hasil aktivitas manusia juga terus meningkat, sehingga sudah menjadi masalah yang besar.

Sampah merupakan masalah lingkungan hidup yang sampai saat ini belum dapat ditangani dengan baik, terutama di negara-nega sedang berkembang, sedangkan kemampuan pengelola sampah dalam menenganai sampah tidak seimbang dengan produksinya, sehingga menumpuk dimana-mana. Sampah yang tidak terurus dengan baik akan menyebabkan menurunnya kesehatan dan nilai estetika lingkungan karena pencemaran air, udara, dan berkembangnya hama penyakit, sehingga permukiman penduduk disekitar tumpukan sampah tersebut tidak layak lagi bagi penduduk. Selama ini usaha yang dilakukan dalam penanganan sampah adalah bagaimana cara membuang sampah tersebut, tetapi timbul masalah lagi karena lahan tempat pembuangan sampah semakin sempit, lokasinya makin jauh dari kota dan bermunculan permukiman kumuh disekitar tempat pembuangan sampah.

Dari waktu ke waktu, komposisi sampah menjadi semakin kompleks, karena perubahan zaman dengan segala kemodernian teknologi.  Komponen sampah basah semakin berkurang, sedangkan kandungan komponen kering khususnya sisa kemasan menjadi meningkat. Pada masa sekarang, bahan plastik dipandang sebagai bagian penting dalam hidup manusia, karena sifatnya yang kuat, ringan, mudah diolah, murah dan hemat energi. Dengan sifat tersebut, plastik semakin banyak digunakan sebagai bahan pengemas. Pada saat ini 40 % produk plastik dunia digunakan untuk bahan pengemas, akibatnya jutaan ton plastik dibuang sebagai sampah setiap harinya.

Penerapan pengelolaan sampah kota yang menekankan semua bentuk buangan padat merupakan residu yang harus dibuang hal tersebut tidak mendukung sustainabilitas/keberlanjutan lingkungan. Teknologi pembuangan sampah yang dilaksanakan dikebanyakan kota di Indonesia masih menyebabkan terjadinya emisi bau, metana, serta gas –gas lainnya ke atmosfer. Selain itu timbul pencemaran tanah dan air tanah akibat lindi yang terbentuk, serta terjadinya perkembangbiakan vektor-vektor penyakit, seperti lalat dan tikus.

            Sampah dapat berada pada setiap fase / materi, yaitu fase padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam fase cair dan gas, terutama dalam fase gas sampah ini disebut sebagai emisi berkait dengan polusi. Bila sampah masuk ke dalam lingkungan (air,udara dan tanah) maka kualitas lingkungan akan menurun. Peristiwa masuknya sampah ke lingkungan inilah yang dikenal sebagai peristiwa pencemaran lingkungan.

Hierarki Penanganan sampah yang yang mendukung sustainabilitas lingkungna :

  1. Pencegahan, dapat dilakukan dengan mengurangi pola konsumsi / belanja berlebihan serta menggunakan produk dengan sistem sewa atau pinjam.
  2. Minimisasi yaitu mengurangi timbulan sampah semaksimal mungkin. Untuk meminimisasi dapat dilakukan dengan menggunakan produk yang kemasannya dapat digunakan ulang/ refill serta melakukan pemilahan sampah yang dapat di daur ulang.
  3. Pemanfaatan kembali (Refuse) yaitu dengan pemanfaatan barang bekas untuk fungsi yang sama atau berbeda, misalnya botol sirup bekas untuk tempat air, dapat dilakukan pula dengan menyumbangkan barang bekas ke pihak-pihak yang dapat memanfaatkannya.
  4. Daur ulang (recycling) yaitu dengan mengubah bentuk dan sifat sampah melalui proses bio-fisik yang lebih berharga. Misalnya mengubah sampah basah menjadi kompos, mengolah sampah plastik menjadi pelet.
  5. Perolehan energi (Energy recovery) di mana sampah dipandang sebagai sumber daya yang dapat menghasilkan energi, yaitu mengubah sampah melalui proses biofisikkimiawi menjadi energi. Penerapan metode ini dilakukan di TPA yang difasilitasi dengan sistem pengumpul dan konversi energi dari gas metana yang terbentuk selama sampah ditimbun. Proses anaerobik yang secara alami berlangsung didalam timbunan sampah mampu mengubah sampah organik menjadi gas metana dari TPA akan teremisi ke atmosfer, dan menjadi salah satu penyeabab terjadinya pemanasan global. Selain melalui proses anaerobik, sampah makanan dan sampah biomassa dapat dikonversi menjadi Biofuel  alkohol, melalui proses hidrolisis dan fermentasi. Bentuk Energy recovery lainnya adalah pengubahan energi panas yang timbul pada proses insinerasi sampah, menjadi energi listrik. ( sulistyo,budi,dkk,2010:42,ed)

Contoh dari Energy Recovery : membuat briket bahan bakar dari sampah, melalui proses Thermal (insinerasi, pyrolisis, gasifikasi), serta produk metana melalui biotreatment.

  1. Pembuangan akhir yaitu membuang seluruh komponen sampah yang tidak dapat di daur ulang  ke TPA atau membakarnya.

Menghadapi trend kuantitas sampah yang terus meningkat, hierarki pengelolaan sampah harus berubah. Trend pengelolaan sampah kota yang mengutamakan 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle, perlu di dukung agar jumlah sampah yang dibuang menjadi berkurang, dimana volume sampah yang dibuang ke TPA menjadi jauh berkurang dengan lebih diintensifkannya program 3R.

Ketika berbicara mengenai sampah, yang ada hanya Masalah, masalah dan masalah. Dengan kepedulian akan sampah, masalah yang ditimbulkan dapat diminimalisir dan bahkan menghasilkan keuntungan. Semua itu tergantung bagaimana kita menindak lanjuti sampah yang ada. Dengan penanganan yang benar, dampak negatif tersebut dapat disulap menjadi sesuatu yang menguntungkan atau menjadi berkah bagi penggiat sampah. Lain halnya apabila sampah dibiarkan dan tanpa penanganan yang serius dari berbagai pihak, maka sampah akan menjadi petaka bagi siapa saja.

 

 

Daftar Pustaka

Bahar, H. Yul.1986.Teknologi Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Jakarta: PT Waca Utama Pramesti

Sulistyo,Budi,dkk.2010.MDGs Sebentar Lagi.Jakarta: PT Kompas Media Nusantara

Sunu, Pramudya.2001.Melindungi Lingkungan Dengan Menerapkan ISO 14001. Jakarta: PT Grasindo

Sumber Lain :

http://green.kompasiana.com/polusi/2012/12/26/sampah-masalah-atau-berkah-514104.html