A. Pendahuluan
Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Segala sesuatu yang dilakukan anak akan mempengaruhi keluarganya, begitu pula sebaliknya. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pengalaman interaksi di dalam keluarga akan menentukan pula pola tingkah laku anak terhadap orang lain dalam masyarakat. Selain sebagai tempat awal bagi proses sosialisasi anak, keluarga juga tempat anak mengharapkan dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan. Peranan dan tanggung jawab yang harus dimainkan orang tua dalam membina anak adalah besar (Solihin, 2004).
Seorang anak akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal jika kebutuhan dasarnya terpenuhi, misalnya kebutuhan fisik (sandang, pangan, papan) dan kebutuhan psikologis berupa dukungan, perhatian dan kasih sayang. Perlakuan salah yang sering diterima anak dari keluarga, khususnya orang tua membuat keluarga justru menjadi sumber ancaman dan ketidaktentraman anak. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang didapatkan oleh Putra (dalam Ervika,2005) melalui penelitiannya ”A Focused on Child Abuse in Six Selected Provinces in Indonesia”, menemukan bahwa hasil-hasil perlakuan salah (maltreated) terhadap anak yang terjadi dalam ranah publik dan domestik ternyata sebagian besar dilakukan oleh orang tua mereka. Adapun yang dimaksud dengan perlakuan salah dalam hal ini adalah segala jenis bentuk perlakuan terhadap anak yang mengancam kesejahteraan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, sosial, psikologis, mental dan spiritual (Ervika,2005).
Kekerasan domestik atau kekerasan yang terjadi di dalam lingkungan keluarga menduduki porsi terbesar dalam kasus kekerasan yang menimpa anak-anak pada rentang usia 3-6 tahun. Sebanyak 80% kekerasan yang menimpa anak-anak dilakukan oleh keluarga mereka, 10% terjadi di lingkungan pendidikan, dan sisanya orang tak dikenal. Pada tahun 2002, setiap bulannya terdapat 30 kasus kekerasan yang diadukan oleh korbannya kepada lembaga konseling Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia. Sebanyak 60% merupakan korban kekerasan ringan, berupa kekerasan verbal atau caci maki, sedangkan 40% sisanya mengalami kekerasan fisik hingga seksual (Solihin, 2004). Data diatas menunjukkan bahwa kasus-kasus tindak kekerasan sangat mudah ditemui di lingkungan keluarga yang secara normatif sering dikatakan sebagai tempat paling aman bagi anak-anak.
Jika orangtua menganggap anak adalah miliknya dan orangtualah yang menguasai, orangtua cenderung memperlakukan anak seenaknya. Padahal seorang anak juga memiliki hak untuk memiliki dirinya dan memeperlakukan diri sesuai dengan apa yang diinginkannya. (Sjarkawi,2006:7)
Anak terlantar termasuk kategori anak rawan atau anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus (child in need of special proyection). Dalam buku pedoman pembinaan anak terlantar yang di keluarkan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur (2001) di sebutkan bahwa yang di sebut anak terlantar adalah anak yang karena suatu sebab tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar, baik secara rohani, jasmani, maupun sosial. Seorang anak dikatakan terlantar, bukan sekedar karena ia sudah tidak lagi memiliki salah satu orang tua atau kedua orang tuanya. Disini, anak terlantar ketika hak-hak anak untuk tumbuh kembang secara wajar, untuk memperoleh pendidikan yang layak, dan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, tidak terpenuhi karena kelalaian, ketidakmengertian orang tua, ketidakmampuan atau kesengajaan. (Bagong Suyanto,2010:212-213)

B. Rumusan Masalah
1. Mengapa fungsi lembaga keluarga mengalami pergeseran dalam pelaksanaannya?
2. Apa dampak pergeseran lembaga keluarga dalam kehidupan seorang anak?

C. Tinjauan Pustaka

D. Pembahasan
1. Potensi Taman Ronggowarsito
Taman merupakan salah satu elemen penyusun ruang kota yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai ruang terbuka, taman dipahami sebagai ruang yang berisi unsur-unsur alam dan pemandangan yang ditimbulkan oleh keragaman vegetasi, aktivitas dan unsur-unsur buatan yang disediakan sebagai fasilitas sosial dan rekreasi, serta sebagai sumber pernafasan kota.
Taman Ronggowarsito pada dasarnya merupakan taman yang terbentuk sebagai sebuah taman rekreasi yang berupa jalur hijau di tepi sungai yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem bagi lingkungan alam di sekitarnya. Selain itu taman yang lokasinya dilalui oleh jalur jalan arteri tersebut juga bagian dari jalur hijau yang menjadi jantung penyuplai udara bersih. Kehadiran pepohonan yang terdapat di dalamnya dapat berfungsi untuk menyimpan suplai air meskipun dalam kapasitas terbatas. Kehadiran taman tepi sungai tersebut dapat menjadi penyeimbang penataan ruang di perkotaan, sehingga sebuah kota tidak hanya memiliki kawasan bisnis, pemukiman atau perkotaan, tetapi dilengkapi kawasan hijau berupa taman sebagai ruang terbuka publik. Taman tersebut juga dapat dijadikan sebagai tempat warga kota melakukan aktivitas ringan untuk sejenak lepas dari kehidupan kota yang berat, yang secara khusus disediakan bagi warga untuk bersantai menikmati sore atau pagi hari, serta rekreasi ringan dan melewatkan waktu untuk berinteraksi dengan komunitas lainnya.
Taman Ronggowarsito memiliki potensi-potensi yang menarik untuk dikembangkan sebagai ruang terbuka publik. Lokasi taman yang berdekatan dengan fungsi-fungsi utama dalam sistem pusat kota seperti fungsi pendidikan, pariwisata (keberadaan Taman Jurug), perdagangan dan jasa, industri serta fungsi penunjang lainnya dapat menimbulkan daya tarik yang besar apalagi adanya kemudahan akses untuk menuju taman karena berada di jalur jalan arteri. Keberadaan taman tersebut juga akan semakin menunjukkan jati diri kota Solo sebagai Kota Bengawan yang ditunjukkan dengan keberadaan Sungai Bengawan Solo sehingga Taman Ronggowarsito memiliki relevansi dengan karakter Sungai Bengawan Solo sebagai landmark Kota Surakarta yang memberikan pemandangan terbuka kawasan tepian air. Selain itu, Taman Ronggowarsito menjadi tempat persinggahan dari event-event budaya Kota Surakarta dan menjadi sarana bagi masyarakat Surakarta untuk berkumpul bersama menikmati keelokan dan kegitan yang berlangsung di tepi Sungai Bengawan Solo. Seperti event yang diselenggarakan pihak Dinas Pariwisata yaitu Bengawan Solo Getek Festival pada hari minggu 20 november 2011, acara tersebut memiliki tujuan untuk mengembalikan fungsi asli sungai sebagai sarana transportasi air dari tujuan yang sederhana terkandung makna yang luas, antara lain berkaitan dengan nilai historis Sungai Bengawan Solo. Acara tersebut dimulai sekitar pukul 09.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB dengan start dari Ngepo melewati Semanggi, Putat, SD wonosaren, Tugu urban, Sari warna lalu berakhir dengan finish di Taman Ronggowarsito, acara tersebut diikuti oleh 40 peserta, tidak hanya dimeriahkan dengan antusiasme peserta namun acara ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan Reog Kusumo yudho, musik keroncong iblis, dan sajian tari tradisional dengan gamelan asli Jawa yang turut menghibur pengunjung yang datang untuk melihat. Menurut penuturan pihak penyelenggara, mereka mengharapkan dengan dijadikannya Taman Ronggowarsito sebagai tempat event besar Bengawan Solo Getek Festival, pemerintah dan masyarakat percaya bahwa eksistensi Bengawan Solo dan Taman Ronggowarsito itu masih ada dan harus tetap dijaga, selain itu juga agar lebih memperhatikan perawatan Sungai Bengawan Solo dan Taman Ronggowarsito. Keadaan lingkungan yang baik perlu dilestarikan dan ini menjadi tanggung jawab bersama.
Sungai Bengawan Solo sendiri merupakan sungai yang memiliki sejarah yang tinggi berkaitan dengan terbentuknya Kota Solo. Nilai-nilai sejarah dan budaya yang tinggi telah menjadikan sungai Bengawan Solo sebagai landmark kota Surakarta. Identitas yang ditimbulkan tersebut merupakan suatu ciri khas tersendiri bagi Sungai Bengawan Solo yang dapat membedakannya dengan sungai yang lain. Selain itu, dengan aliran Sungai Bengawan Solo akan menciptakan image kawasan yang menimbulkan visual dan citra keindahan bagi kota Surakarta, yang pada akhirnya dapat menciptakan pengalaman ruang yang baik bagi orang yang menikmatinya. Hubungan antara nilai-nilai sejarah dan budaya dengan image visual dan citra keindahan tersebutlah yang menjadikan Sungai Bengawan Solo memiliki karakteristik tersendiri yang dapat membedakannya dengan sungai yang lain serta memberikan jati diri kepada kota Surakarta sebagai Kota Bengawan.
2. Resiko yang timbul karena adanya Taman Ronggowarsito

Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan di dalam atau diluar keluarga. Fungsi tersebut mengacu pada peran individu dalam mengetahui dan memahami fungsi keluarga dan pada akhirnya terwujudlah hak dan kewajiban dalam keluarga.
Fungsi keluarga terdiri dari fungsi biologis, fungsi pendidikan. Fungsi keagamaan, fungsi perlindungan, fungsi sosialisasi anak, fungsi rekreatif dan fungsi ekonomis. Sedangkan menurut Horton dan Hurt, fungsi keluarga meliputi fungsi pengaturan seksual, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi, fungsi afeksi, fungsi penentuan status, fungsi perlindungan dan fungsi ekonomi. Diantara fungsi-fungsi tersebut, fungsi pokok yang harus dijalnkan oleh kelurga adalah fungsi biologis, fungsi sosialisasi anak dan fungsi afeksi. Sedangkan fungsi-fungsi yang lain telah mengalami pergeseran karena diambil alih oleh lembaga sosial lainnya.
Fungsi sosialisasi Anak. Melalui fungsi ini keluarga berusaha mempersiapkan bekal selengkap-lengkapnya kepada anak untuk memeperkenalkan pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan mereka. Peran orang tua sangat besar dalam proses sosialisasi sebab anak akan meniru segala yang dilihat dan dipelajari dari orang tuanya. Maka sangatlah penting proses sosialisasi ini, dan sebisa mungkin fungsi tersebut tidak diambil alih oleh orang atau lembaga lain. Karena dalam proses sosialisasi tidak ada peran pengganti ayah dan ibu yang benar-benar memuaskan.
Fungsi afeksi. Penyebab utama gangguan emosional, perilaku bahkan kesehatan fisik adalah ketiadaan cinta dan kasih sayang di dalam keluarga. Tetapi seiring berkembangnya zaman, fungsi afeksi telah bergeser kepada orang lain, terutama bagi orang tua yang bekerja diluar rumah. Terutama bagi para wanita karir, dampak yang muncul adalah longgarnya nilai kontrol orang tua terhadap anak dan pemberian toleransi terhadap perbuatan anak yang melanggar etika.
Fungsi Edukasi. Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik manusia. Hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan anak mulai dari bayi, belajar berjalan hingga mampu berjalan, semuanya diajari oleh keluarga. Fungsi edukasi dalam keluarga pun juga mengalami pergeseran, tanggung jawab keluarga untuk mendidik anak sebagian besar bahkan mungkin seluruhnya telah diambil alih oleh lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Maka dari itu fungsi laten dari lembaga pendidikan adalah melemahnya pengawasan dari orang tua, otoritas orang tua terhadap anaknya juga telah berkurang, sehingga tidak menutup kemungkinan anak akan menemukan hal baru yang bertentangan dengan nilai-nilai orang tuanya.
Fungsi lain yang mengalami pergesaran misalnya fungsi perlindungan, fungsi perlindungan dalam keluaraga lambat laun bergeser dan sebagian telah diambil alih oleh lembaga lainnya. Misalnya mula-mula laki-laki melindungi keluarganya dengan senjata, tetapi dimasa sekarang polisi dan petugas keamanan yang melindungi hak-hak seseorang dalam kehidupannya. Lembaga kesehatan melindungi orang-orang dari penyakit, dan banyak fungsi perlindungan yang diambil alih oleh lembaga lainnya, misalnya anak yatim piatu, anak nakal, dan orang-orang lanjut usia.
Dengan bertambah kompleknya kebudayaan, fungsi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan juga mengalami pergeseran. Keluarga yang pada awalnya dipandang sebagai lembaga paling kuat karena kempuannya dalam mengendalikan individu, kini pandangan tersebut memudar karena adanya lembaga-lembaga sosial lain yang dianggap mampu menggantikan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan, misalnya dalam hal pendidikan formal, fungsi ekonomi, fungsi agama. Tetapi apabila lembaga keluarga dan lembaga sosial lain saling melengkapi terutama dalam hal menjalankan fungsi-fungsi keluarga, akan tercipta keharmonisan di dalam keluarga maupun masyarakat.

E. Penutup
1. Kesimpulan
Taman Ronggowarsito pada dasarnya merupakan taman yang terbentuk sebagai sebuah taman rekreasi yang berupa jalur hijau di tepi sungai yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem bagi lingkungan alam di sekitarnya.
Taman ronggowarsito tersebut sangat tergantung dengan keadaan alam. Daya dukung alam sangat menentukan bagi kelangsungan hidup manusia, maka kemampuan daya dukung alam tersebut harus dijaga agar tidak rusak dan berakibat buruk bagi manusia. Ada dua resiko yang dihadapi manusia mengenai kerusakan alam, resiko internal dan resiko eksternal. Resiko lain yang dihadapi masyarakat adalah resiko mental yaitu kecemasan akan datangnya banjir yang kapanpun bisa terjadi.

2. Saran
Dilakukan konservasi alam sebagai upaya pengelolaan yang dilakukan manusia dalam memanfaatkan biosfer sehingga dapat memberi keuntungan sebesar-besarnya dan berkelanjutan bagi kehidupan generasi manusia. Upaya ini bertujuan untuk mmelihara dan mempertahankan potensi alam agar dapat memenuhi kebutuhan manusia.

Daftar Pustaka

Iskandar, Johan. 2001.Manusia budaya dan lingkungan.Bandung: Humaniora utama press
Soemanto, RB.2010.Sosiologi Pariwisata.Jakarta: Universitas Terbuka
Wardhana, Wisnu arya.1999.Dampak Pencemaran Lingkungan.Yogyakarta: Andi Offset