1. A.      Pendahuluan

Pada dasarnya setiap agama berusaha untuk menyiarkan ajaran-ajaran agamanya, terutama agama Islam. Bagaimanapun, Islam sebagai agama dakwah, ajaran-ajarannya harus senantiasa disampaikan kepada umat Islam atau kepada seluruh umat manusia. Setiap muslim yang telah akil baligh wajib berdakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dakwah itu juga mestilah dilaksanakan secara bijaksana sesuai dengan keadaan dan perkembangan masyarakat. Dalam pelaksanaan dakwah, harus dimanfaatkan hasil kemajuan sains dan teknologi agar pelaksanaan dakwah itu dapat berjalan dengan baik. Dengan kata lain, segala aspek kehidupan dapat dimanfaatkan untuk berdakwah dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Dakwah Islam telah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan umat Islam. Kejayaan umat Islam pada zamannya sangat ditentukan oleh dakwah yang dijalankan oleh Rasulullah beserta para sahabatnya yang kemudian dilanjutkan oleh para mubaligh, ustaz dan guru agama. Berkaiatan dengan hal ini, dijelaskan bahwa sejarah perkembangan agama tauhid menunjukkan bahwa kebenaran yang diturunkan Allah terus menerus dapat berkembang dengan baik, disebarluaskan melalui dakwah oleh para nabi, Rasul, ulama dan mubaligh.

Televisi merupakan salah satu teknologi komunikasi yang perlu mendapat pemanfaatan maksimal dalam pelaksanaan dakwah. Peranan televisi dirasakan semakin penting, akibat semakin canggihnya teknologi komunikasi dan informasi. Berbagai ide, gagasan, pesan, ajaran dan ideologi dapat disampaikan secara luas melalui pemanfaatan televisi.

Berdasarkan jumlah penonton dan jumlah televisi yang dimiliki setiap penduduk, televisi merupakan media yang paling banyak peminatnya. Program-program agama yang disiarkan melalui televisi, akan berupaya menjangkau lebih dari 38.03 % penduduk didaerah yang sangat luas dalam waktu yang sama. Dari 127.126 orang penduduk Kota Langsa. Sekitar 48.350 orang (38.03 %) yang selalu menonton televisi, sebanyak 40.548 orang (31.90 %) selalu mendengar radio dan 38.228 orang (30.07 %) membaca surat kabar dan majalah (http://makalahmajannaii.blogspot.com)

Berdasarkan data statistik tersebut maka dapat diketahui bahwa televisi merupakan media yang paling benyak penggunaannya. Informasi keagamaan di televisi dapat menjangkau penduduk di seluruh Indonesia. Acara-acara agama yang disiarkan selalu melalui televisi dapat didengar dan ditonton oleh masyarakat. Begitu juga masyarakat yang selalu sibuk ternyata dapat juga meluangkan waktu untuk mendengar dan menonton acara-acara agama yang disiarkan melalui televisi. Karena itu, televisi dapat dipergunakan sebagai media alternatif untuk penyiaran agama.

Telivisi merupakan media yang sangat efektif dalam penyiaran agama, tetapi fenomena yang sekarang terjadi adalah memanfaatkan agama sebagai tayangan yang komersial. Televisi yang berada dalam jagad budaya populer menempatkan agama sebagai komoditas yang bisa dijual kepada publik. Agama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral atau suci. Agama yang ditampilkan di televisi adalah agama yang telah dikemas untuk kepentingan mendapatkan uang. Potret ketaatan beragama di televisi cenderung bersifat semu dan artifisial demi kepentingan materi. Melihat fenomena komersialisasi agama maka penulis akan mengulas mengenai “eksploitasi simbol agama dalam tayangan televisi” sebagai dampak dari komersialisasi sebuah agama.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang dan pembatasan masalah maka rumusan masalah adalah: Bagaimana eksploitasi simbol agama dalam tayangan televisi bisa terjadi?

 

  1. C.      Tinjauan Pustaka
  2. 1.      Ekspoitasi

Eksploitasi bisa diartikan sebagai pemanfaatan untuk keuntungan sendiri. Dalam makalh ini simbol agama misalnya seorang Ustadz atau ajaran-ajaran agama digunakan untuk mendapatkan keuntungan pada pihak-pihak tertentu. Tayangan televisi menggunakan tameng agama untuk menarik perhatian publik agar rating dari tayangan tersebut naik. Karena masyarakat sekarang menggunakan media televisi untuk menambah pengetahuan mengenai perkembangan dunia. Ketika produsen televisi menyuguhkan tayangan yang bertemakan agama, maka masyarakat menganggap bahwa apa yang ada dalam tayangan tersebut adalah benar.

Lebih parahnya lagi, simbol agama dikomersialisasi yaitu agama sebagai barang dagangan dalam industri pertelevisian. Banyak pemeran sinetron yang memakai jilbab tetapi apa yang ditunjukkan dalam perannya tidak sesuai dengan syariat islam.

 

  1. Simbol  Agama

Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berfikir dan pola – pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut “agama” (religious) (Ishomuddin,2002:29).

Harun Nasution, menjelaskan intisari yang terkandung dalam pengertian agama adalah ikatan, yang harus dipegang dan dipatuhi oleh manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan ini berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Sesuatu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap panca indra manusia Sesuatu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap panca indra manusia. Harun Nasution menjelaskan agama sebagai :

  1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
  2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
  3. Mengikatkan diri pada satu bentuk hidup yang mengandung pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
  4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
  5. Suatu system tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan gaib.
  6. Pengakuan terhadap adanya-kewajiban-kewajiban yang diyakin bersumber pada suatu kekuatan gaib.
  7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
  8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.  (http://lppbi-fiba.blogspot.com).

Bagi sebagian manusia, agama dipandang sebagai aturan yang melakt pada diri seseorang dan aturan tersebut bersifat mengikat sehingga perilaku sehari-hari harus sesuai dengan ajaran agama yang dipercayainya.

  1. Tayangan  Televisi

Tayangan menurut bahasa adalah sesuatu yang ditayangkan (dipertunjukkan), pertunjukan (film, dan sebagainya) persembahan. Televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel dan ruang. Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektrik dan mengkorvesinya kembali ke dalam cahaya dan suara yang dapat di dengar. Jadi tayangan televisi adalah media komunikasi massa dengar pandang, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara dan gambar secara umum, baik terbuka maupun tertutup berupa program yang teratur dan berkesinambungan (http://www.referensimakalah.com)

Program adalah segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiencenya. Program atau acara yang disajikan adalah faktor yang membuat audience tertarik untuk mengikuti siaran yang dipancarkan stasiun penyiaran apakah itu radio atau televisi.

Konsumsi masyarakat mengenau program agama ditelevisi meningkat, sehingga produser menggunkan kesempatan itu untuk membuat sinetron yang berbafaskan keislaman terutama pada bulan Ramadhan, tetapi banyak program tersebut yang menyimpang dari ajaran islam.

 

  1. D.      Teori

Pendekatan Teori dalam Makalah ini adalah menggunakan Teori Interaksionisme Simbolis dari George Herbert Mead. Interaksionosme simbolik memusatkan perhatiannya trhadap interaksi antara individu dengan kelompok, interkasi tersebut menggunkan simbol-simbul yang mencakup tanda, isyarat,  kata-kata, lisan, ataupun objek. Orang mempelajari simbol sekaligus makna dalam interaksi sosial. Menurut Charon (dalam George Ritzer, 2008:395) Simbol adalah objek sosial yang digunkan untuk merepresentasikan apa-apa yang memang disepakati bisa direpresentasikan oleh simbol tersebut.  Misalnya Ustadz adalah salah satu simbol dalam agama islam yaitu seseorang yang menyebarkan nilai-nilai agama. Jilbab identik dengan seorang wanita muslim.

Orang sering menggunakan simbol untuk mengomunikasikan sesuatu tentang diri mereka, seorang yang memakai baju gamis misalnya untuk mengomunikasikan bahwa dia adalah seorang yang taat beragama. Simbol menempati posisi yang krusial dalam membuka kemungkinan orang bertindak secara manusiawi. Karena simbol, manusia tidak merespon secara pasif realitass yang datng padanya namun secara aktif menciptakan dan menciptakan kembali dunia tempat ia bertindak. Simbol pada umumnya dan bahasa pada khususnya memiliki sejumlah fungsi spesifik bagi aktor :

  1. Sombol memungkinkan orang berhubungan dengan dunia materi dan dunia sosial karena dengan simbol mereka bis memberi nama, membeuat kategori dan mengingat objek yang ia temui.
  2. Simbol meningkatkan kemampuan orang mempersepsikan lingkungan.
  3. Simbol meningkatkan kemapuan berpikir. Dalam hal ini berpikir dapat dipahami sebagai interaksi simbolis dengan diri sendiri.
  4. Simbol meningkatkan kemampuan orang memecahkan masalah.
  5. Penggunaan simbol memungkinkan aktor melampaui waktu, ruang, dan bahkan pribadi mereka sendiri.
  6. Simbol memungkinkan lita membeyangkan realitas metafisik, seperti surga dan neraka.
  7. Simbol memungkinkan orang menghindar dari perbudakan yang datang dari lingkungan mereka, yaitu mengendalikan sendiri apa yang mereka lakukan.

 

  1. E.       Pembahasan

Ketika bulan Ramadhan, banyak tayangan televisi yang  menampilkan program siaran atau iklan komersial yang berkaitan dengan keislaman.
Program siaran televisi dikemas untuk menarik semangat religiusitas yang katanya cenderung meningkat saat bulan Ramadhan. Simbol-simbol keislaman benar-benar dieksploitasi untuk menyentuh rasa religiusitas publik. Sayangnya, permainan simbol-simbol keislaman di televisi lebih bersifat komersial dan betujuan untuk memprovokasi orang untuk membeli produk-produk tertentu. Fenomena yang sekarang ini, Televisi menempatkan agama sebagai komoditas yang bisa dijual kepada publik. Agama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral atau suci. Agama yang ditampilkan di televisi adalah agama yang telah dikemas untuk kepentingan mendapatkan uang. Potret ketaatan beragama di televisi cenderung bersifat semu dan artifisial demi kepentingan materi. Lebih parahnya lagi, para ustadz, ulama atau pendakwah tidak menyadari bahwa mereka sedang terperangkap oleh permainan industri budaya populer. Tidak banyak para pendakwah ynang mengira bahwa mereka sedang berdakwah kepada publik, padahal apa yang mereka sampaikan lebih dipengaruhi unsur komersialisasi dari pada unsur substansi pengajaran, mislanya saja materi yang mereka sampaikan sesuai dengan arahan produser.

 

  1. 1.      Eksploitasi Simbol Agama

Perkembangan ilmu pengetahuan dan kapitalisme yang semakin merejalela yang membeuat manusia tidak bisa menghindarinya, manusia lebih mementingkan materi. Sekarang ini, industri pertelevisian tidak tanggung-tanggung mengkomodifikasikan  (komersialisasi) agama, yakni dengan cara mengekplotasi simbol-simbol agama untuk kepentingan ekonomi. Dalam perangkap budaya populer program siaran agama dikolaborasikan dengan hiburan sehingga memunculkan acara-acara religiotainment atau ramadhantainment di televisi. Dakwah serasa tidak menarik bila tidak dilengkapi dengan hiburan yang dibawakan oleh artis-artis cantik.

Televisi sangat erat dengan artis yang cantik, artis yang ganteng dan lain sebagainya, terlebih daya tarik artis lebih kuat dari pada dakwah itu sendiri. Kondisi seperti ini semakin mengaburkan esensi ajaran agama yang ditampilkan di televisi. Ini disebabkan keberadaan artis dalam program agama sering tidak merepresentasikan pesan-pesan agama yang ingin disampaikan. Realitas kehidupan artis yang bersifat glamor dalam kehidupan sehari-hari sering tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Bagi artis, kegiatan keagamaan dan pengangkatan simbol-simbol agama yang melibatkan dirinya lebih bertujuan untuk mendapatkan popularitas dari pada motif spritualitas.

Untuk menarik perhatian publik, produser menggunakan artis cantik dan seksi dalam siaran agama atau tayangan sinetron yang bernafaskan agama. Sekarang ini marak sinetron yang menggambarkan kehidupan beragama terutama agama islam, para pemain berperan sesuai ajaran-ajaran islam, artis wanitapun juga memakai jilbab, tetapi apa yang mereka perankan sebenarnya hanya untuk kepentingan komersial saja tanpa meninggalkan pesan nilai agama. Kondisi seperti ini akan merusak citra agama islam, sebab penyampaian ajaran agama melalui televisi sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam beragama. Mayarakat menganggap bahwa adegan-adegan yang diperankan oleh para artis sudah ada pembenaran dari para ustadz ataupun ulama. Misalnya saja dalam sinetron Pesantren Rock n Roll, dalam sinetron tersebut diceritakan seorang santri yang berpacaran dalam pondok, dalam hal ini jelas sangat bertentangan dengan ajaran islam yang melarang berzina termasuk pacaran apalagi setting dari cerita tersebut berada di pondok pesantren.

Selain menggunakan artis cantik dan seksi, siaran agama di televisi juga sering menggunakan para komedian atau pelawak.  Ini juga bertujuan untuk menarik perhatian publik agar menonton acara tersebut.  Setiap orang termasuk para komedian tentu saja mempunyai hak untuk tampil dalan siaran-siaran agama. Kehadiran para komedian memang memberikan suasana santai dan tawa dalam siaran agama. Tetapi yang sering terjadi adalah ketika para komedian menggunakan bahasa yang tidak mendidik dan perilaku yang tidak terjaga dalam siaran televisi. Seperti yang sering kita perhatikan para komedian menggunakan kata-kata kasar, melecehkan, dan menghina untuk menimbulkan efek lucu. Adegan seperti ini  justru merusak pesan-pesan agama yang disampaikan. Efek lucu jauh lebih dominan dari pada pesan agama yang ingin disampaikan.

Dengan tayangan televisi yang lebih mentontonkan hiburan daripada pesan agama yang terkandung di dalamnya, hal itu merupakan eksploitasi simbol agama yang dikomersilkan melalui tayangan televisi yang mampu merusak citra dari agama itu sendiri.

 

  1. 2.      Ustadz Simbol Utama dalam Penyebaran Agama

Dalam agama islam, ustadz dianggap sebagai simbol dan publik figur yang bisa dicontoh oleh umat islam. Ketika seseorang memutuskan dirinya sebagai seorang ustadz maka dirinya menjadi milik umat atau publik sehingga publik mempunyai hak untuk “mengatur” dan memberikan tafsiran terhadap segala sesuatu yang dilakukannya. Publik tidak hanya memahami kata-kata yang disampaikan ustadz tetapi yang lebih penting bagi publik adalah perilaku kehidupan ustadz sehari-hari, sebab agama itu tidak hanya kata-kata tetapi juga perbuatan. Peran dakwah yang dimainkan ustadz tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pribadinya. Publik memandang ustadz sebagai panutan bagi umat. Bahkan ustadz dianggap simbol kebenaran dan kesucian sehingga publik menginginkan seorang ustadz benar-benar terjaga dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai religiusitas.

Orang sering menggunakan simbol untuk mengomunikasikan sesuatu tentang diri mereka. Sama halnya dengan seorang Ustadz yang harus menampilkan dirinya sbegai sosok seorang Ustadz yang menjadi panutan umat. Apabila seorang ustadz menjadi bintang iklan komersial ataupun bintang sinetron maka semakin memperkuat justifikasi terhadap komodifikasi agama sebab ustadz sebagai tokoh agama membiarkan dirinya dijerat oleh kekuatan materi. Label ustadz dan simbol-simbol religiusitas yang ditampilkan dalam iklan komersial memperburuk citra ustad yang bersifat komersial di mata masyarakat.  Padahal agama mengajarkan bahwa kekuatan materi tidak boleh mengatur hidup manusia. Motif materi dikhawatirkan akan menodai kesucian dan kebenaran yang disampaikan ustadz. Oleh karena itu, ustadz perlu merenungkan kembali untuk masuk ke dunia iklan komersial yang sepenuhnya diatur oleh kekuatan industri. Publik tentu saja menginginkan ustadznya kaya tetapi publik tidak menginginkan ustadz terjebak oleh sistem kapitalis yang cenderung bersifat materialistis.

Popularitas juga sangat berbahaya bagi ustadz sebab popularitas bisa membutakan mata hati untuk melihat kebenaran. Popularitas juga bisa merusak esensi dari dakwah sebab para ustadz yang gila popularitas lebih cenderung untuk menjaga popularitas dengan retorika-retorika tertentu dari pada berpikir secara substantif untuk menyampaikan kebenaran kepada publik.   Kegiatan dakwah memang harus dilakukan secara elegan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat dalam konteks kekinian. Kita sangat setuju kegiatan dakwah menggunakan strategi-strategi tertentu agar publik tertarik untuk mempelajari ajaran agama. Para pendakwah memang ditantang untuk menemukan strategi-strategi yang sesuai dengan gaya hidup dan selera masyarakat masa kini. Tetapi pilihan untuk menjadi bintang iklan komersial atau artis sinetron bagi seorang ustadz justru melunturkan citra ustadz di mata publik.

Seorang ustadz merupakan simbol panutan bagi umat muslim. Umat isalm cenderung meniru tingkah laku sehari-hari seorang ustadz karena mereka menganggap bahwa seorang ustdz adalah sosok panutan dan seorang yang dianggap lebih paham agama. Ketika seorang ustad memutuskan untuk berdakwah melalui media terutama media televisi, seorang utadz harus bisa mengontrol diri agar tidak terbuai dengan popularitas yang menyebabkan rusknya citra agama di mata publik.

 

  1. F.       Penutup
    1. 1.      Kesimpulan

Program siaran televisi dikemas untuk menarik semangat religiusitas yang katanya cenderung meningkat saat bulan Ramadhan. Simbol-simbol keislaman benar-benar dieksploitasi untuk menyentuh rasa religiusitas publik. Sayangnya, permainan simbol-simbol keislaman di televisi lebih bersifat komersial dan betujuan untuk memprovokasi orang untuk membeli produk-produk tertentu. Fenomena yang sekarang ini, Televisi menempatkan agama sebagai komoditas yang bisa dijual kepada publik. Agama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral atau suci. Agama yang ditampilkan di televisi adalah agama yang telah dikemas untuk kepentingan mendapatkan uang. Potret ketaatan beragama di televisi cenderung bersifat semu dan artifisial demi kepentingan materi. Lebih parahnya lagi, para ustadz, ulama atau pendakwah tidak menyadari bahwa mereka sedang terperangkap oleh permainan industri budaya populer.

Seorang ustadz merupakan simbol panutan bagi umat muslim. Umat isalm cenderung meniru tingkah laku sehari-hari seorang ustadz karena mereka menganggap bahwa seorang ustdz adalah sosok panutan dan seorang yang dianggap lebih paham agama. Ketika seorang ustad memutuskan untuk berdakwah melalui media terutama media televisi, seorang utadz harus bisa mengontrol diri agar tidak terbuai dengan popularitas yang menyebabkan rusknya citra agama di mata publik.

 

  1. 2.      Saran

Penyebaran agama melalui pemanfaatan media televisi sangat efektif, karena seluruh masyarakat bisa menikmati program agama yang disajikan dalam tayangan televisi. Tidak sedikit televisi yang memanfaatkan agama untuk menarik publik. Untuk menghindari eksploitasi agama yang berlanjutan, maka lembaga sensor pertelevisian harus memberikan batasan-batasan mengenai tayangan yang disuguhkan terutama tayangan yang berlandaskan agama.

 

 

Daftar Pustaka

 

Ishomuddin.2002.Pengantar Sosiologi Agama.Jakarta:Ghalia Indonesia

Nurudin,1997.Televisi Agama baru, Masyarakat Modern.Malang : UMM Press

Ritzer, George and Douglas J. Goodman.2008.Teori Sosiologi.Yogyakarta:Kreasi Wacana

 

Sumber lain :

http://fib-unilak.ac.id/component/content/article/84-eksploitasi-simbol-agama-televisi.html

http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/05/pola-menonton-siaran-agama-di-televisi.html

http://lppbi-fiba.blogspot.com/2011/03/agama-dan-globalisasi-perspektif.html

http://www.referensimakalah.com/2012/12/pengertian-tayangan-televisi.html