Menurut Prof.Drs.R.Bintarto, Desa adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi politik dan kultural yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain. Dalam pengertian umum, Desa adalah permukiman manusia di luar kota yang penduduknya berjiwa agraris.

Desa di Jawa, mulanya dihuni orang seketurunan. Mereka memiliki nenek moyang sama, yaitu para cikal bakal pendiri permukiman tersebut. Jika permukiman sudah penuh, beberapa keluarga keluar dari desa, mendirikan permukiman baru dengan cara membuka hutan.

Sekumpulan manusia yang hidup bersama tersebut akan membentuk suatu budaya baru yang akan menjadi ciri khas mereka. Kebudayaan dalam definisi klasik adalah kompleks keseluruhan dari pengetahuan dan keyakinan kesenian, moral, hukuum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara social oleh para anggota suatu masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi, Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Dalam definisi tersebut lebih menekankan kebudayaan sebagai upaya manusia untuk menguasai alam dimana ia berada, kemudian hasilnya dipakai oleh kemaslahatan orang banyak.

Kismoyoso adalah sebuah Kalurahan yang berada di kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Pada awalnya desa Kismoyoso hanya dihuni beberapa orang saja dan bersifat turun temurun, lama – kelamaan menjadi desa yang berkembang mengikuti perkemabangan zaman. Desa Kismoyoso cukup luas terdiri dari beberapa dusun, yaitu dusun Ngampo, Dusun Tambas, Dusun Karangpung, Dusun Kedungmasan, dusun Kedungdowo, dusun Payaman, dusun Ngingas, dusun Menuran, dusun Grasak dan dusun Ngampo Krikilan. Dari beberapa dusun tersebut mempunyai kesamaan karakteristik yaitu merupakan desa agraris dan pola pemukiman dari desa kismoyoso adalah Pemukiman penduduknya berdekatan satu sama lain dengan lahan pertanian berada di luar dan terpisah dari lokasi pemukiman.

Untuk mengupas karakteristik yang mendalam, saya akan menggunakan contoh karakteristik yang ada di Dusun Tambas. Dusun tambas merupakan dusun yang paling luas wilayahnya dari dusun lain. Dusun Tambas Tterdiri dari 6 Rt dan dihuni sekitar 250 Kepala Keluarga. fasilitas umum seperti balai desa dan lapangan juga berada di dusun tersebut sehingga aksesnya lebih mudah bila berinteraksi dengan kelurahan. Lembaga pendidikan Formal yang ada di Dusun Tambas ada TK Islam Bhakti dan MIM (Madrasah Ibtida’iyah Muhammadiyah). Teknologi yang digunakan pun masih semi modern. Misalnya dalam bidang pertanian, sudah mneggunkan traktor untuk membajak sawah dan untuk menggiling padi ada yang masih menggunkan Erek (mesin penggiling padi tradisional) dan sudah ada yang menggunkan mesin penggiling padi. Dalam bidang IPTEK, masih banyak warga yang belum bisa menggunakan komputer, karena kebanyakan dari mereka berpendidikan rendah, yang sampai sarjana pun hanya beberapa orang saja. Sehingga terlihat jelas stratifikasi yang ada di dusun tersebut bila dilihat dari segi pendidikan. Mereka yang berpendidikan SD atau SMP khususnya wanita bekerja di pabrik sedangkan para laki-laki bekerja menjadi buruh bangunan. Karena keterbatasan pengetahuan yang dimilki, banyak juga ibu – ibu yang bekerja menjadi buruh bangunan, sehingga menunjukkan bahwa di dusun tersebut tidak ada pembagian secara seksual. Mereka bebas untuk bekerja di berbagai sektor sesuai dengan ketrampilan yang mereka miliki.

Mayoritas agama yang dianut di dusun tambas adalah agama islam. Dan sejak awal dusun tersebut menjadi pelopor serta sudah di kenal sebagai desa yang religiusnya tinggi. Terbukti taman pendidikan Al-qur’an (TPQ) nya sudah berdiri sekitar 21 Tahun. Di dusun tersebut tidak memiliki kesenian yang khas, tetapi di dusun tersebut ada kelompok Kesenian Rodat yang menampilkan atraksi-atraksi serta diiringi alat musik, seperti rebana.

Dusun tambas merupakan desa agraris yang kebanyakan masih mempunyai sawah. Pola tanam yang digunakan adalah selang-seling yaitu dalam setahun menanam padi sebanyak dua kali dan palawija satu kali, hal itu dimaksudkan untuk menjaga kesuburan tanah. Dan karena Sawah tersebut juga merupakan sawah tadah hujan. Ketika musim panen tiba, banyak yang menjadi buruh musiman, yang biasanya bekerja di Solo sebagai buruh pabrik atau buruh bangunan, ketika musim panen mereka lebih memilih menjadi buruh Ngerek atau buruh tandur. Selain memperkerjakan sanak saudaranya para pemilik sawah kadang menggunakan buruh Ngerek tersebut dengan upah sekitar 30.000 sampai 50.000 per hari. Kebanyakan dari hasil panen mereka untuk konsumsi sendiri. Setiap panen hasil yang di dapat sekitar 7 sampai 12 karung tergantung luas sawahnya. Ketika panen tidak ada upacara- upacara khusus, tetapi hasil panen yang mereka peroleh sebagian di zakatkan ke masjid.

Organisasi sosial yang ada di desa Kismoyoso cukup banyak, misalnya ada kelompok tani, karang taruna tingkat kalurahan, posyandu dan lain sebagainya. Sedangkan di dusun Tambas organisasi sosial juga cukup banyak, Di setiap RT ada karang taruna, PKK setiap 2 minggu sekali di hari minggu, Kumpulan bapak-bapak setiap 2 minggu sekali di malam minggu, karangtaruna sebulan sekali, setiap RT berbeda-beda ada yang tiap minggu ke 2, setiap tanggal 10 ada juga yang tiap minggu pertama.

Interaksi yang terjalin di dusun tersebut sangat erat, salah satunya karena adanya organisasi sosial, mereka akrab satu sama lain. Sifat kegotong royongan juga masih terjaga, terbukti masih adanya kerjabhakti untuk memperbaiki jalan yang rusak sedangkan para ibu-ibu dan pemudi nya bersama-sama memasak untuk di sajikan saat kerjabhakti. Terlihat juga ketika ada tetangga yang sedang mengalami kesusahan atau tetangga yang sedang punya gawe. Mereka berbondong-bondong untuk membantunya.

Tradisi yang ada di dusun Tambas sudah mulai memudar, hanya sebagian saja yang masih melakukan tradisi-tradisi, seperti tahlilan, mitoni ( tujuh bulanan orang hamil), syukuran. Dalam merayakan upacara-upacara tersebut tidak semua warga Tambas di undang hanya tetangga dan kerabat terdekat saja. Tetapi untuk bersih desa, diperuntukkan untuk semua warga. Bersih desa dilakukan sebelum bulan puasa dan biasanya mereka membersihkan kuburan secara bersama-sama.