Transmigran Sitiung, dapat tanah 2,25 hektar

untuk mulai hidup baru

Sekelompok rumah yang membentuk dukuh, atau desa. Umumnya berasal dari satu keturunan. Memegang adat sebagai norma yang mengatur perilaku anggotanya, dan berpencarian sebagai petani ( agraris ).

Ketika waduk Gajah Mungkur, Surakarta mulai dibangun, penduduk diungsikan secara bedol desa ke Sitiung, Sumatera Barat. Proyek transmigrasi di pinggir Trans Sumatera Highway ini berada di areal persawahan baru seluas 27.000 hektar, menggantikan 40.000 hektar dukuh2, tegalan dan persawahan para transmigran yang digenangi air waduk. Mereka terdiri 67.517 kepala keluarga ( kk ). Tiap2 angkatan yang terdiri sekitar 500 kk, secara bertahap berhasil dimukimkan kembali. Tiap kk disediakan 1,25 ha sawah, 0,75 tegalan dan 0,25 ha pekarangan di sekitar rumah tinggal. Letaknya, tidak di hutan liar, namun diapit permukiman penduduk asli yang telah lama ada.

Letak proyek transmigrasi di dekat pertemuan 2 batang sungai sehingga irigasinya lancar. Persebaran pedukuhan di tengah lautan persawahan. Berada di antara kota Sitiung dan Kotabaru menguntungkan perkembangan lanjut kawasan transmigrasi tsb. Di buatkan pula, jalan2 terobosan baru untuk keperluan transportasi dan komunikasi. ( drs.N.Daldjoeni ).

Sumber :

http://anisavitri.wordpress.com/2009/12/17/desa-definisi-asal-mula-bentuk-pola-ciri-romantikanya/

Ulasan

Menurut Prof.Drs.R.Bintarto, Desa adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi politik dan kultural yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain. Dalam pengertian umum, Desa adalah permukiman manusia di luar kota yang penduduknya berjiwa agraris.

Dari pengertian diatas bahwa desa sangat identik dengan pemanfaatan lahan, tanah atau sumber daya alam, misalnya pertanian, hutan ataupun laut. Proyek transmigrasi pada artikel tersebut juga menggunakan tipe pemanfaatan lahan atau tanah yaitu Tiap kepala keluarga disediakan 1,25 ha sawah, 0,75 tegalan dan 0,25 ha pekarangan di sekitar rumah tinggal. Sehingga para transmigran dapat memanfaatkan tanah yang telah disediakan untuk bercocok tanam guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan tipe pemukiman yang seperti itu dimungkinkan mereka kebanyakan adalah bertani dari sawah atau tegalan yang mereka punyai.

Menurut tipologi desa yang dilihat dari pola pemukiman, transmigran sitiung termasuk desa pertanian dan termasuk tipe Farm Village yang berarti suatu desa dimana orang berdiam bersama dalam suatu tempat dengan sawah ladang berada disekitar tempat itu. Diatas sudah dijelaskan bahwa pemerintah memberikan tanah seluas 2,25 Hektare untuk sawah, tegalan, dan pekarangan rumah yang letaknya saling berdekatan atau berada disekitar tempat tinggal mereka.

Daftar Pustaka

Leibo,Jefta.1990.Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta:Andi Offset

http://anisavitri.wordpress.com/2009/12/17/desa-definisi-asal-mula-bentuk-pola-ciri-romantikanya/

http://ilhamnugrohosp.blogspot.com/2010/11/karakteristik-desa.html