Joko Widodo adalah wali kota Solo yang akrab di sapa Jokowi, Wali kota yang di kenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan tidak neko-neko. Awalnya Jokowi adalah seorang yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman yang 100% eksport, tak heran bila banyak orang meragukan kemampuannya. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Sehingga masyarakat mulai menggeser pandangannya terhadap Jokowi. Masyarakat mulai merasakan hasil kerjanya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Sehingga Solo menyandang Branding “Solo: The Spirit of Java”. Banyak Gebrakan progresif yang dilakukan, ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung dengan masyarakat secara rutin dan terbuka dan disiarkan lewat televisi lokal.

Masyarakat solo adalah masyarakat yang sederhana dan sebagian besar masih bersifat tradisional. Tak salah bila Jokowi berperilaku dan berpikir sederhana pula,  tetapi tetap menghasilkan hasil yang memuaskan bagi warga Solo dan sekitarnya.

Dalam bukunya Mind, Self and Society, Mead berpendapat bahwa bukan pikiran yang pertama kali muncul, melainkan masyarakatlah yang terlebih dulu muncul dan baru diikuti pemikiran yang muncul pada dalam diri masyarakat tersebut. Karena masyarakat Solo adalah masyarakat yang sederhana, Jokowi tumbuh menjadi pemimpin yang sederhana pula. Sehingga saat Jokowi menjabat Walikota untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota. Nama Jokowi tidak hanya populer, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat.

Jokowi juga menggunakan konsep simbol untuk mengomunikasikan sesuatu tentang dirinya. Simbol menempati posisi krusial dalam membuka kemungkinan orang bertindak secara manusiawi. Karena simbol, manusia “tidak merespon secara pasif realitas yang datang padanya namun secara aktif menciptakan dan menciptakan kembali dunia tempat ia bertindak.” (charon, 1998).

Simbol memiliki Fungsi spesifik bagi pelakunya :

  1. Simbol memungkinkan orang berhubungan dengan dunia materi dan dunia sosial karena dengan simbol mereka bisa memberi nama, membuat kategori, dan mengingat objek yang mereka temui.
  2. Simbol meningkatkan kemampuan orang memersepsikan lingkungan
  3. Simbol meningkatkan kemampuan berpikir
  4. Simbol meningkatkan kemampuan orang orang memecahkan masalah

Memang benar yang dilakukan Jokowi untuk menarik simpatik Warga Solo pada khususnya dan seluruh warga Indonesia pada umumnya. Jokowi berusaha menyimbolkan dirinya dengan label Pemimpin Sederhana dengan sosok pemimpin yang dekat dengan warganya.

Makna dan simbol memberi karakteristik khusus pada tindakan sosial dan interaksi sosial, sehingga orang lain juga akan merespon dan memperkirakan dampak apa yang akan timbul bagi orang lain. Orang – orang akan menafsirkan simbol-simbol yang melekat pada Jokowi dan mengarahkan respons tindakan berdasarkan penafsiran mereka. Tentu saja penafsiran tersebut ada yang positif dan ada pula yang negatif. Meskipun  respons yang diberikan berbeda-beda, Jokowi tidak perlu menerima makna dan Simbol yang berada diluar diri Jokowi karena dalam interaksionisme Simbolik, aktor sekurang-kurangnya memiliki otonomi. Jokowi tidak sekedar dikekang atau diarahkan mereka mampu menetapkan pilihan unik dan independen. Selain itu, mereka mampu mengembangkan kehidupan yang memiliki gaya unik (parinbanayagam,1985)

Menurut teori Interaksionisme Simbolik, Jokowi sukses menarik perhatian Warganya dengan label yang ia sandang Pemimpin sederhana dan mampu mengayomi masyarakat. Itulah sosok pemimpin dambaan Negeri ini, agar Negeri ini tak banyak gejolak dengan berbagai permasalahannya.

Daftar Pustaka

Ritzer, George and Douglas J Goodman.2011. Teori Sosiologi.Bantul : Kreasi Wacana

http://biografi.rumus.web.id/2012/01/biografi-jokowi-joko-widodo.html