Kota Solo merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang cukup berkembang. Indikasi berkembangnya suatu kota, ditandai dengan semakin tingginya jumlah penduduk dan bertambahnya aktivitas. Tidak dipungkiri lagi hal tersebut memicu semakin tingginya produksi sampah yang dihasilkan oleh kota tersebut setiap harinya. Tanpa adanya perhatian yang serius dari berbagai pihak terutama pemerintah, permasalahan sampah akan menjadi persoalan besar yang yang akan sulit diatasi terutama dalam hal pengelolaan sampah.

Pada tanggal 20 Februari 2012, saya mendatangi dan mengamati lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo yang terletak di desa Jatirejo RT 06 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta. Adanya TPA Putri Cempo yang berada di daerah tersebut sebagian masyarakat menjadikannya sebagai tempat untuk mencari nafkah atau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masyarakat yang memanfaatkan TPA sebagai tempat mencukupi kebutuhan hidup adalah pemulung dan penadah barang bekas. Rumah – rumah di dekat TPA banyak dipenuhi barang-barang bekas yang kebanyakan plastik, yang nantinya akan dijual ke pabrik. Selain itu truk – truk pengangkut sampah baik DKP maupun DPP berseliweran yang datang dan masuk TPA, hal itu membuktikan bahwa sampah – sampah yang ada di kota solo sangatlah banyak. Dengan adanya pemulung dan penadah barang bekas, akan sangat membantu dalam pengelolaan sampah. Pemulung yang ada di TPA tersebut berjumlah ratusan sehingga tidak dimungkinkan adanya suatu asosiasi atau paguyuban yang mengkoordinir para pemulung. Sehingga apabila ada seoarang penadah yang  mau membeli barang bekas bisa langsung kepada paguyuban tersebut.  Sistem transaksi antara pemulung dan penadah barang bekas yang ada di TPA Putri Cempo adalah para penadah langsung datang ke TPA untuk membeli barang-barang bekas terutama plastik kepada pemulung, jadi para pemulung tidak susah – susah untuk mendatangi para penadah. Dari penadah, barang-barang akan dijual ke pabrik-pabrik pengelolaan barang bekas.

Peran pemulung dan penadah tidaklah maksimal apabila pengelolaan sampah belum tepat. Dengan jumlah penduduk yang semakin membengkak, konsumsi masyarakat semakin melonjak sehingga berakibat pada peningkatan jumlah sampah. Belum lagi apabila Solo ada event yang menyedot penonton dari berbagai wilayah sehingga produksi sampah semakin berlipat ganda. Sementara itu, pengelolaan sampah di kota Solo masih menggunakan cara yang konvensional yakni sistem pembuangan terbuka atau open dumping dimana sampah dibuang ke tanah yang sudah di gali setelah itu sampah ditutup tanah lagi. Cara tersebut terbukti tidak efektif karena areal yang digunakan untuk menampung sampah suatu saat akan mengalami keterbatasan daya tampung atau overload. Keadaan yang terlihat di TPA Putri Cempo sangat memprihatinkan sampah menggunung dan alat beratpun tidak memadai dalam pemerataan sampah. Apabila pemerintah lebih bijak dan tepat dalam mengambil keputusan menanggapi masalah yang ada, maka pemandangan yang terjadi mungkin tidak memprihatinkan seperti itu.

Dengan menggandeng pemulung dan penadah barang bekas, pemerintah bisa memaksimalkan pemilahan sampah anorganik, agar sampah tidak terlalu menggunung. Mungkin pemerintah juga harus lebih memeperhatikan manajemen dalam pengelolaan sampah, misal Penetapan lokasi TPA sampah yang tepat serta penataan kawasan di sekitarnya perlu dilakukan secara seksama agar tidak menimbulkan permasalahan terutama yang terkait dengan masalah sosial dan lingkungan. Pemerintah juga bisa mengubah sistem Pengelolaan sampah, misalnya dengan sanitary landfill, yaitu Sebuah sistem dimana sampah tidak lagi ditumpuk tetapi diolah dan direduksi menjadi partikel yang lebih kecil. Hasil dari olahan dan reduksi tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber energi bagi warga Solo. Tetapi dalam mengubah sebuah sistem tidak semudah itu, perlu pemikiran dan persiapan yang matang, agar di kemudian hari tidak timbul masalah baru. Selain itu, pemerintah juga bisa mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah  dengan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu pemanfaatan sampah atau barang bekas menjadi sesuatu yang bisa di manfaatkan kembali.