Penelitian Deskriptif
Penelitian Deskriptif dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya. Misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecenderungan yang tengah berlangsung.
Pada hakekatnya, setiap penyelidikan mempunyai sifat deskriptif dan setiap penyelidikan mengadakan proses analitik, tetapi dalam metode ini deskriptif dan analisis merupakan hal penting. Pelaksanaan metode-metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang arti data itu. Dan pada taraf terkhir, metode deskriptif harus sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang didasarkan atas penelitian data. Langkah awal untuk mengadakan analisa, adalah peneliti harus mempunyai satu cara berfikir, cara pengupasan, dengan referensi atau titik tolak tertentu. Misalnya peneliti menganalisa suatu fenomena didalam unsur-unsur dan unsur0unsur ditempatkan menurut titik tolak tertentu untuk penampungan dan sintese. Langkah selanjutnya adalah mengklasifikasikan, misalnya dalam bentuk,pola, kedudukan, ataupun klasifikasi yang memperlihatkan suatu dinamika, perhubungan dan lain sebagainya. Klasifikasi tersebut diperlukan untuk dapat melihat kedudukan setiap fenomena atau unsur-unsur fenomena dalam satu struktur yang besar. Misalnya pada ilmu hayat (klasifikasi tumbuh-tumbuhan) ilmu perpustakaan (klasifikasi katalog dan indeks) semuanya ini berfungsi sebagai pengatur pikiran dan tanggapan seseorang dalam mengadakan analisa.
Ciri-ciri metode Deskriptif
1. Memusatkan diri pada pemecahan masalah-maslah yang ada pada masa sekarang, masalah-masalah yang aktual.
2. Data yang dikumpulkan mula-mula di susun, di jelaskan kemudian dianalisis (metode ini sering disebut metode analitik).
karakteristik-karakteristik yang ada pada penelitian deskriptif seperti yang dikemukakan Furchan (2004) bahwa :
1. penelitian deskriptif cendrung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat.
2. Tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan,
3. Tidak adanya uji hipotesis.
Pada umumnya Penelitian deskriptif dilakukan dengan tujuan, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan sobjek yang diteliti secara tepat.
Beberapa alasan lain yang di lakukan oleh para peneliti karena Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian di lakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia. Selain kedua alasan seperti tersebut, misal karena bentuknya sangat sedarhana den mudah di pahami tanpa perlu memerlukan teknik statistika yang kompleks. Sebenarnya penelitian deskriptif juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual.
Langkah-langkah dalam melakukan penelitian Deskriptif
1. Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif (memilih masalah yang akan diteliti).
2. Merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah, kemudian berdasarkan masalah tersebut melakukan studi pendahuluan untuk menghimpun informasi dan teori – teori sebagai dasar menyusun kerangka konsep penelitain.
3. Membuat asumsi atau anggapan-anggapan yang menjadi dasar perumusan hipotesis penelitian.
4. Merumuskan hipotesis penelitian (bila ada)
5. Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data.
6. Menentukan kriteria atau kategori untuk mengadakan klasifikasi data.
7. Menentukan teknik dan alat pengumpul data yang akan digunakan.
8. Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data untuk menguji hipotesis
9. Melakukan pengolahan dan analisis data
10. Menarik kesimpulan atau generalisasi.
11. Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian.

Jenis-jenis Penelitian Deskriptif
1. Teknik Survey
Survey adalah suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu yang bersamaan. Tujuan survey adalah untuk membuat penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program di masa sekarang dan hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut. Survey bukan hanya dilaksanakan untuk membuat deskripsi tentang suatu keadaan saja, tetapi juga untuk menjelaskan hubungan antara berbagai variabel yang diteliti. Diantara bidang yang sering diteliti adalah bidang kemasayarakatan (survey sosial), bidang persekolahan (survey sekolah), bidang politik (survey kepartaian dan pemilihan umum) dan lain sebagainya. Survey dilakukan dengan berbeda-beda sesuai dengan sifat dan tujuan khusus survey, tetapi persamaannya adalah bahwa setiap teknik survey adalah penyelidikan dengan gerak yang meluas dan merata karena sampel yang besar dihadapi dalam satu masa maka teknik ini menghasilkan data kuantitatif yang menggambarkan secara umum keadaan sampel yang diselidiki. Misalnya bagaimana pendapat masyarakat desa terhadap peraturan pemerintah masyarakat tersebut dalam hal pembatasan kelahiran, berapa banyak waktu senggang para mahassiswa UNS dan bagaimana cara mengisinya, dan lain sebagainya.
2. Studi Kasus
Studi kasus yaitu suatu penyelidikan yang memusatkan perhatian secara intensif tentang individu, dan atau unit sosial yang dilakukan secara mendalam dengan menemukan semua variabel penting tentang perkembangan individu atau unit sosial yang diteliti. Karena sifatnya yang mendalam dan mendetail iu, studi kasus umumnya menghasilkan gambaran yang longitudinal yakni hasil pengumpulan dan analisa data kasus dalam satu jangka waktu dan dalam penelitian ini dimungkinkan ditemukannya hal-hal tak terduga kemudian dapat digunakan untuk membuat hipotesis. Studi kasus juga diusahakan menemukan begeralisasi serta pola-pola kasus yang dipandang khas.
3. Studi Komparatif
Studi komparatif adalah Penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisa tentang perhubungan-perhubungan sebab akubat, yakni yang meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diseidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain. Kelemahan dari studi komparatif adalah tudak mudahnya untuk mengenal faktor-faktor penyebab, terutama pada suatu penyelidikan dimana banyak kemungkinan terdapat saling pengaruh antara banayak faktor, atau kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh faktor tertentu yang sulit diketahui atau karena situasi yang dihadapi terlalu terbats untuk memperoleh data yang secukupnya.
4. Studi waktu dan gerak
Dalam lapangan pendidikan dan latihan, studi waktu dan gerak dapat menghasilkan norma mengenai waktu atau gerak yang normal bagi seorang petugas dalam melakukan tugas tertentu dan dengan norma itu dapat diadakan rencana pendidikan atau sistem seleksi untuk membedakan petugas-petugas yang efektif dari petugas-petugas yang tidak efektif.
5. Analisa tingkah laku
Studi ini banyak persamaanya dengan studi tentang gerak manusia, tetapi cakupannya lebih luas. Gerak gerik atau tingkah laku manusia dalam melakukan suatu tugas dengan tanggungjawab tertentu akan diamati dan analisa. Studi ini berguna untuk menetapkan kriteria penilaian pekerjaan yang baik, untuk memeberi keseimbangan anatara pekerjaan yang diberikan dengan upah yang diterima oleh setiap petugas.
6. Analisa kuantitatif
Dengan analisa kuantitatif akan diperoleh gambaran sistematik mengenai isi suatu dokumen. Dokumen tersebut diteliti isinya, kemudian diklasifikasi menurut kritera atau pola tertentu dan dianalisa atau di nilai. Yang lazim diselidiki dengan teknik ini adalah buku-buku, surat-surat penting, sylabus, rekaman suara, film dan lain sebagainya. Tujuan yang dicapai dalam analisa kuantitatif adalah untuk menjelaskan suatu situasi, atau untuk menetapkan taraf kesulitan bahan pelajaran dalam buku tertentu untuk menilai segi praktis dalam pendidikan warga negara dalam buku-buku bacaan atau untuk menganalisa berbagai kesalahan dalam karangan.
7. Studi operasional
Pada dasarnya studi ini adalah penyelidikan ditengah-tengah situasi yang riil dalam mencari dasar bagi petugas-petugas untuk bertindak (operasi, aksi) mengatasi suatu kebutuhan praktis yang mendesak. Studi operasional baru berkembang sebagai teknik penyelidikan deskriptif pada kira-kira seperempat abad terkhir ini dan dilakukan terutama dalam bidang pendidikan dan kemasayarakatan. Penyelidikan operasional berbeda dengan yang lainnya yaitubdalam tekanan sifat-sifat tertentu dari penyelidikan yang murni. Peneyelidikan dasar atau penyelidikan murni umumnya berusaha menemukan generalisasi, dalil, ataupun teori yang berlaku umum. Implementasi penemuan itu biasanya diserahkan pada ahli-ahli lain yang bergerak secara praktis dalam bidang yang sesuai. Pada studi atau penyelidikan operasional, penyelidikan timbul sebagai akibat terasanya satu kebutuhan operasional yang efektif, baisanya peneyelenggara penyelidikan itu adalah oarang-orang praktek (pelaksana) itu sendiri dengan bantuan ahli penyelidikan. Dan kesimpulan dari studi operasional umumnya berlaku terbatas pada daerah penyelidikan yang aktual itu saja.
Masih banyak jenis-jenis penelitian lain yang tentu saja lebih sesuai dengan tujuan penelitian. Jenis-jenis penelitian tersebut lebih cenderung bersifat longitudinal atau memakan waktu yang panjang. Misalnya penyelidikan deskriptif yang bertujuan khusus pada perkembangan dan pertumbuhan, yang kadang-kadang bersifat genetik atau diagnosik.

DAFTAR PUSTAKA
Salim,Agus.2006.Teori dan Paradigma Penelitian Sosial.Yogyakarta:Tiara Wacana
Surakhmad, Winarno.1998.PENGANTAR PENELITIAN ILMIAH dasar, metode dan teknik.Bnadung:Tarsito
Usman, husaini dan purnomo setiady aakbar.2004.Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta:Bumi Aksara