Positivisme
Positivisme merupakan paradigma yang muncul paling awal dalam dunia ilmu pengetahuan. Positivisme muncul pada abad ke 19 dengan dimotori oleh sosiolog Auguste Comte, sesungguhnya pendiri filsafat positivis adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Auguste Comte melalui karyanya The Course of Positive Philosophy (1830-1842) yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu terwujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat sehjarah Condorcet). John Stuart Mill dari ingrris memodifikasi dan mengembangkan pemikiran Comte dalam karya Mill yang cukup monumental A Systemof Logic (1843). Kemudian Emile Durkheim sosiolog Perancis menguraikan satu versi positivisme daam karyanya Rules of the Sociological Methods (1895) yang kemudian menjadi rujukan bagi periset ilmu sosial yang beraliran Positivisme.
Keyakinan dasar aliran positivisme berakar pada paham ontologi realisme yang menyatakan bahwa realitas berada (exist) dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Penelitian berupaya mengungkap kebenaran realitas yang ada dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan.
Menurut Durkheim, sekalipun Fakta sosial berasal dari luar kesadaran individu, akan tetapi oleh periset dalam penelitian positivisme, informasi kebenaran itu dinyatakan kepada individu yang dijadikan responden penelitian. Periset harus menjaga hakikat realitass seperti apa adanya dan menjaga objektivitas temuan, sehingga secara epistemologis menempatkan periset dibelakang layar. Tetapi secara metodologis, seorang periset dituntut untukn menggunakan metodologi eksperimen empirik atau metode lain yang setara. Hal itu dimaksudkan untuk menjamin agar temuan yang diperoleh betul-betul objektif dalam menggambarkan keadaan yang sebenarnya, mencari derajat pesisi yang tinggi, melakukan pengukuran yang akurat, dan juga menguji hipotesis melalui analisa atas angka-angka yang berasal dari pengukuran.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan – hubunganya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori – teori atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.
Kebanyakan yang dibahas dalam diskusi tentang metode adalah diskusi mengenai asumsi dan tujuan, teori dan perspektif. Dua perspektif teori yang nampak dominan dalam ilmu sosial adalah positivism dan fenomenologis. Kaum Positivis mencari fakta-fakta atau sebab-sebab dari gejala-gejala sosial tanpa memperhatikan keadaan individu sebagai subyek. Durkheim menganjurkan kepada ilmuwan sosial untuk mencari fakta-fakta atau gejala-gejala sosial dan memandangnya sebagai “barang sesuatu” (thing) yang memberikan pengaruh eksternal terhadap tingkah laku manusia. Sedangkan fenomenologi mengikuti petunjuk Irwin Deutcher yang asal usulnya dari Max Weber. Kaum fenomenologi berkepentingan memahami tingkahlaku manusia menurut kerangka acauan dari sang pelaku perbuatan itu sendiri. Kaum fenomenologi meneliti bagaimana dunia ini dihayati. Bagi mereka, realitas yang terpenting adalah bagaimana manusia melukiskannya atau menghayati dunianya.

Hubungan Positivis dengan Kuantitatif
Karena kaum positivis dan fenomenologi mendekati persoalan-persoalan dengan cara yang berbeda dan mencari pemecahan persoalan yang berbeda pula, maka jenis riset mereka secara metodologi juga berbeda. Kaum positivis meneliti fakta-fakta dan sebab-sebab melalui metodologi seperti kuisioner, pencatatan barang-barang, dan analisis demografi yang menghasilkan data kuantitatif (jumlah, angka-angka) yang memungkinkannya untuk membuktikan hubungan anatara variabel secara statistik. Sehingga Kaum positivis dalam risetnya, harus melakukan pengukuran yang akurat, dan juga menguji hipotesis melalui analisa atas angka-angka yang berasal dari pengukuran.
Seiring perekembangan ilmu-ilmu sosial pendekatan positivistik-kuantitatif mengalami pergeseran. Faktor utamanay adalah tuduhan bahwa penelitian kuantitatif selain tidak tuntas memotret persoalan sosial yang berkembang juga karena postulat obyektifitas dan distansi periset – obyek studi yang menjadi nafas penelitian kuantitatif telah menghalangi sekian banyak sarjana untuk terlibat aktif dalam proses perubahan sosial yang membuat periset tidak berdaya mengunyah data-data sosial lantaran tidak memiliki legalitas keilmuan yang memadai.
Deddy Mulyana (2003) faktor yang mendorong pergeseran pandangan tersebut karena :
1. Gugatan para ilmuwan perihal daya eksplanatori pendekatan kauantitatif-positivistik terhadap objek kajian.
2. Laju perubahan sosial yang begitu cepat memerlukan pendekatan dan model studi yang lebih kontekstual dan handal.
3. Kajian kuantitatif juga dianggap menghassilkan misrepresentasi terhadap subjek-subjek kajiannya.
Namun pergeseran minat tidak serta merta menempatkan pendekatan kualitatif keposisi yang semula diduduki positivisme-kuantitatif, tetapi sebaliknya paradigma kualitatif juga masih dipandang tidak valid. Dan temuan dan kesimpulan studi yang dihasilkan paradigma kualitatif lebih disebut kritik ketimbang teori.

DAFTAR PUSTAKA
Salim,Agus.2006.Teori dan Paradigma Penelitian Sosial.Yogyakarta:Tiara Wacana
Bogdan,Robert and Steven J. Taylor.1993. KUALITATIF (Dasar-dasar Penelitian).Surabaya:Usaha Nasional
Slamet, Yulius. 2008. Pengantar Penelitian Kuantitatif.Surakarta: LPP UNS dan UNS Press