BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk merupakan keseimbangan yang dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan kekuatan-kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. Secara terus-menerus penduduk akan dipengaruhi oleh jumlah bayi yang lahir (fertilitas), tetapi secara bersamaan pula akan dikurangi dengan jumlah kematian (mortalitas) yang terjadi pada semua golongan umur, serta perpindahan penduduk (mobilitas) juga akan mempengaruhi bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk di suatu daerah atau wilayah.

Di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara dinyatakan bahwa jumlah penduduk yang besar baru menjadi modal dasar yang efektif bagi pembangunan nasional hanya bila penduduk yang banyak itu berkualitas baik. Namun dengan pertumbuhan penduduk yang pesat sulit untuk meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahtaeraan secara layak dan merata. Hal ini bahwa penduduk yang besar dengan kualitas penduduk yang tinggi sulit dicapai.

Perkembangan penduduk tanpa diimbangi dengan kontrol untuk mengukur jumlah penduduk yang diinginkan, hanya akan menimbulkan masalah sosial, ekonomi dengan segala pertumbuhan penduduk yang tinggi dari tahun ke tahun memerlukan investasi dan sarana di bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perumahan, dan lain sebagainya. Hal ini tentu saja akan menjadi masalah yang cukup rumit bagi pemerintah dalam membangun dan meningkatkan taraf hidup bagi negaranya.

Pengetahuan tentang pendidikan tidak kalah penting untuk diketahui oleh masyarakat yang mana dapat merangsang timbulnya kesadaran dan membina tingkah laku yang bertanggung jawab terhadap masalah kependudukan, sehingga masalah-masalah yang ada di atasi dengan penuh perhatian dan memungkinkan setiap masalah dapat di atasi dan dicegah atau dihindari.

Pendidikan sangatlah penting tidak hanya untuk memahami dan menyadari hal tersebut saja. Namun pendidikan juga sangat penting untuk melangkah menuju prospek ke depannya, seperti misalnya dalam masalah mata pencaharian, terutama dalam pencarian pekerjaan bagi masyarakat. Pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi mata pencahariannya, semakin tinggi pendidikan maka pekerjaan yang akan diperoleh akan semakin tinggi pula tingkatannya. Namun hal ini tidak sepenuhnya benar, seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali ini. Dimana banyak pula terdapat pekerja yang tidak harus dengan mengenyam dunia pendidikan, ada pula pekerja yang hanya mengenyam dunia pendidikan tidak sampai selesai. Mereka yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi biasanya bermatapencaharian sebagai petani, buruh pabrik, maupun bekerja sebagai buruh bangunan.

Pekerjaan merupakan sebuah tuntutan kehidupan, di mana bekerja itu mempunyai tujuan sebagai pemenuh dari kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan ini dilakukan guna mempertahankan kehidupan. Hal ini dikarenakan manusia hidup itu memerlukan makanan (pangan), tempat tinggal (papan), pakaian (sandang), dan kebutuhan kebutuhan yang lain seperti kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Referensi waktu yang dipakai untuk menilai apakah seseorang bekerja atau sedang mencari kerja mempengaruhi besarnya angkatan kerja dan partisipasi angkatan kerja, pengangguran, dan perimbangan antar sektor dari penduduk yang tergolong angkatan kerja (Said Rusli, 1994 : 81).

Dari alasan-alasan itulah peneliti memilih Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali sebagai obyek dari penelitian kami. Oleh sebab itu pula peneliti menggunakan judul “Pengaruh Tingkat Pendidikan Masyarakat Terhadap Jenis Pekerjaan di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali “.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, yang mencoba mengkaji lebih dalam mengenai pengaruh tingkat pendidikan terhadap jenis pekerjaan masyarakat di daerah Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali maka dari penelitian ini, peneliti memberikan batasan penelitian.

Batasan penelitian yang dimaksud agar lebih memudahkan dan mensistematisasi studi maka batasan tersebut terangkum dalam perumusan masalah sebagai berikut :

1.      Tingkat pendidikan apa sajakah yang dimiliki oleh kebanyakan masyarakat Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali ?

2.      Jenis pekerjaan apa saja yang terdapat di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali ?

3.      Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan dengan jenis pekerjaan di daerah tersebut ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis pekerjaan masyarakat Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali berdasarkan tingkat pendidikannya. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan yang ada di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini mempunyai maksud untuk menggambarkan segala jenis pekerjaan yang didapatkan oleh masyarakat Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali berdasarkan tingkat pendidikannya. Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pemicu semangat bagi para pembaca hasil penelitian ini untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi guna mendapat pekerjaan yang lebih baik. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini berguna untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan terhadap jenis pekerjaan di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali.

E. Tinjauan Pustaka

1.    Pengertian Pendidikan

Dalam artian sederhana pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Banyak para ahli memjelaskan arti pendidikan tersebut menurut pandangan mereka, inilah beberapa contoh pengertian pendidikan menurut para ahli :

a.     John Dewey

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

b.    Ki Hajar Dewantara

Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi.tingginya. (Ahmad D. Marimba, 1987:19)

c.     Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Jadi, pendidikan merupakan fenomena manusia yang fundamental yang juga mempunyai sifat konstruksi dalam hidup manusia. (Habsbullah, 2005: 1-6)

2.    Pengertian Pekerjaan

Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi.

3.    Pengertian Pengangguran

Penganggur adalah orang yang mampu bekerja, tetapi tidak mampu mempunyai pekerjaan, dan ingin bekerja atau baik secara aktif, maupun pasif mencari pekerjaan. Jadi, pengangguran adalah keadaan seorang yang mampu dan mau melakukan pekerjaan akan tetapi sedang tidak mempunyau pekerjaan. Pengangguran itu sendiri dapat dibagi menjadi bebrapa macam macam yaitu :

a.       Pengangguran Peralihan

Pengangguran peralihan adalah pengangguran yang disebabka karena pencari kerja tidak mengetahui bahwa ada lowongan yang sesuai dengan kualifikasi dan keinginan yang dimilikinya, begitupn dengan perusahaan yang mencari tenaga kerja tidak mengetahui bahwa ada pencari kerja yang memenuhi syarat tersedia baginya.

b.      Pengangguran Musiman

Pengangguran musiman disebabkan oleh fluktuasi kegiatan produksi dan distribusi barang dan jasa yang dipengaruhi oleh musim, biasanya disebabkan oleh faktor iklim dan ada yang disebabkan oleh kebiasaan masyarakat.

c.       Pengangguran Konjungtural

Pengangguran konjungtural timbul karena penurunan kegiatan ekonomi. Pengangguran ini terjadi selama masih ada pengangguran kegiatan produksi sampai kegiatan ekonomi hidup kembali.

d.      Pengangguran Teknologis

Pengangguran teknologis disebabakan karena adanya perubahan teknologi produksi. Yang menyangkut proses pekerjaan, jenis-jenis bahan yang digunakan, ataupun tingkat produktivitas kerjanya.

e.       Pengangguran Struktural

Ada dua macam pengangguran struktural yang dikenal hingga kini yaitu : pengangguran struktural yang disebabkan oleh perubahan struktur barang. Hal ini terjadi karena adanya barang atau jasa yang semula mempunyai pasaran yang cukup baik kemudian tidak laku dijual, selain itu juga bisa terjadi karena adanya sumber alam yang habis, terutama sumber bahan pertambangan. Dan yang kedua adalah pengangguran struktural yang terjadi di negara berkembang yang disebabkan oleh struktur perekonomian yang belum maju, kurang mampu menciptakan cukup banyak  lapangan kerja produktif dan remuneratif bagi seluruh angkatan kerjanya.  (Suroto, 1992:29 dan 197-207)

4.         Pengertian Angkatan Kerja

Angkatan kerja adalah sebagian dari jumlah penduduk dalam usia kerja yang mempunyai pekerjaan dan yang tidak mempunyai pekerjaan, tetapi secara aktif atau pasif mencari pekerjaan. (Suroto, 1992: 28)

F. Teori/Pendekatan yang Digunakan

Studi kependudukan (Population Studies) merupakan istilah lain bagi Ilmu Kependudukan yang digunakan disini. Studi kependudukan terdiri dari analisa-analisa yang bertujuan mencakup :

1.      Memperoleh informasi dasar tentang distribusi penduduk, karakteristik, dan perubahan-perubahannya.

2.      Menerangkan sebab-sebab perubahan dari faktor dasar tersebut.

3.      Menganalisa segala konsekuensi yang mungkin sekali terjadi di masa depan sebagai hasil perubahan.perubahan itu.

Menurut Hauser dan Duncan Demografi adalah suatu studi mengenai jumlah, distribusi teritorial, dan komposisi penduduk, perubahan-perubahan yang bertalian dengannya serta komponen-komponen yang menyebabkan perubahan yang bersangkutan yang dapat di identifikasikan sebagai natalitas, mortalitas, gerak penduduk teritorial dan mobilitas sosial( perubahan sosial). Pemisahan antara studi kependudukan dan analisa demografi umpamanya telah dilakukan oleh Houser yang menyatakan bahwa :

1.      Analisa demografi merupakan analisa statistik terhadap jumlah, distribusi, dan komposisi penduduk, serta komponen-komponen variasinya dan perubahan,

2.      Studi kependudukan mempersoalkan hubungan-hubungan antara variabel demografi dan variabel dari sistem lain.

Ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai untuk pengukuran masalah ketenagakerjaan yaitu, “gainfull worker approach” seorang yang dalam batas umur tertentu akan ditanya” kegiatan apa yang bisa ia lakukan dalan suatu kurun waktu tertentu. Yang biasa disebut sekolah tetapi saat pencacahan sedang mencari pekerjaan, maka dalam gainful worker approach ia akan dimasukan dalam kategori sekolah. Selain itu ada juga pendekatan “ Labour force approach”, dalam pendekatan ini seluruh penduduk dalam kelompok umur tertentu dan dalam kurun waktu tertentu pula dikelompokan menjadi 2 kelompok yaitu: mereka yang termasuk dalam kategori “labour force” (angkatan kerja) dan mereka yang tidak termasuk kedalam labour force (bukan angkatan kerja). Mereka yang termasuk dalam kategori angkatan kerja adalah mereka yang yang bekerja, dan mereka yang sedang mencari kerja. Selebihnya adalah bukan dalam angkatan kerja (sekolah, megurus rumah tangga, pesiun/penerima pendapatan, cacat, jompo, dan sebagainya yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja.  (Kartomo, 1986 : 289)

BAB II

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Alasan pemilihan lokasi ini adalah karena ingin mengetahui jumlah angkatan kerja di kecamatan tersebut dan hubungan antara tingkat pendidikan dengan jenis pekerjaan untuk dianalisis.

B. Jenis Penelitian

Kegiatan penelitian pada dasarnya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembedaan itu sendiri didasarkan pada banyak hal, misalnya didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti, metode yg digunakan, lokasi penelitian atau hal lain yg mempengaruhi kegiatan peneliti itu sendiri.

Penelitian ini sendiri termasuk dalam jenis penelitian dasar, yg merupakan jenis penelitian yang banyak digunakan secara individual terutama dilingkungan akademis. Kami menggunakan 2 macam jenis penelitian, yaitu penelitian deskriptif dan penelitian eksplanatif.

C. Sumber data

Sumber data merupakan bagian yang sangat penting bagi peneliti karena ketepatan dalam memilih dan menentukan jenis sumber data akan menentukan kekayaan data dan ketepatan data atau informasi yg diperoleh. Dan penelitian kami memperoleh data dengan cara berikut :

a.       Informan (narasumber)

Para informan dalam penelitian ini adalah pegawai di Kecamatan Ngemplak yang bertugas mencatat tentang kependudukan didaerah tersebut.

b.      Peristiwa atau Aktivitas

Data atau informasi yang dikumpulkan dari peristiwa di Kecamatan Ngemplak sebagai sumber data yang berkaitan dengan sasaran penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan terhadap banyaknya angkatan kerja yang terdapat di daerah tersebut.

c.       Tempat atau Lokasi

Tempat atau lokasi yang berkaitan dengan sasaran atau permasalahan penelitian juga dapat dijadikan sebagai sumber data yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti. Informasi mengenai kondisi dan lokasi peristiwa atau aktifitas dilakukan bisa digali lewat sumber lokasinya, baik yang merupakan tempat maupun lingkungan yang terdapat di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali.

d.      Gambar

Dalam hal ini, kami menggunakan peta Kecamatan Ngemplak untuk menganalisis kondisi geografis di daerah tersebut.

e.       Dokumen dan arsip

Dokumen dan arsip merupakan bahan tertulis yang berhubungan dengan suatu peristiwa, diantaranya adalah data monografi Kecamatan Ngemplak dan data lainnya yang berkaitan dengan masalah penelitian ini.

f.       Jenis data

Jenis data yang digunakan oleh peneliti adalah :

1.      Data primer, data ini kami peroleh langsung dari informan melalui teknik wawancara.

2.      Data sekunder, data ini dikumpulkan berupa data kepustakaan yang berhubungan dengan penelitian ini diantaranya literatur mengenai kependudukan, data monografi, dokumen, dan arsip kecamatan.

D. Teknik pengumpulan data

1.         Observasi

Kami mengamati lokasi dan mencatat semua yang berhubungan dengan penelitian secara sistematis.

2.         Wawancara

Wawancara yang digunakan adalah wawancara formal kepada petugas kecamatan yang dapat dilakukan pada jam kerja PNS untuk mendapatkan data secara eksplisit.

3.                   Dokumen

Dokumen yang dipakai oleh peneliti digunakan untuk melengkapi penyusunan penelitian. Data ini berupa data monografi, catatan statistik, dokumen dan arsip lainnya yang berguna untuk memperkuat data yang ada.

BAB III

DESKRIPSI LOKASI

A. Letak Geografis Kabupaten Boyolali

Kabupaten Boyolali merupakan salah satu dari 35 kabupaten dan kota di Propinsi Jawa Tengah, yang terletak diantara 1100 22’ – 1100 50’ Bujur Timur dan 70 36’ – 70 71’ Lintang Selatan, dengan ketinggian antara 75-1500 meter diatas permukaan laut. Sedangkan wilayah Kabupaten Boyolali dibatasi oleh :

a.       Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang

b.      Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Sukoharjo, dan Kota Surakarta

c.       Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta

d.      Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang

Adapun jarak bentang dari arah Barat – Timur antara lain adalah 58 km. Kabupaten Boyolali juga dikenal sebagai kota susu serta memiliki obyek wisata pemandian ataupun pegunungan yang indah.

B. Gambaran Umum Kecamatan Ngemplak

Ngemplak adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Boyolali yang berada di barat Kota Surakarta. Luas wilayah daerah ini mencapai 15 km2. Jumlah penduduk di Kecamatan Ngemplak pada tahun 2010 adalah 81.138 jiwa. Bandara Adisumarmo terletak di kecamatan ini. Letak kecamatan ini secara geografis berada di ujung Timur Kabupaten Boyolali. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan sambi sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Nogosari, sebelah timur berbatasan dengan Kota Surakarta, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar. Di kecamatan ini terdapat Bandara internasional yaitu Bandara Adi Sumarmo. Di kecamatan ini pula terdapat Waduk Cengklik. Kebanyakan penduduk di Kecamatan ini masih mengandalkan perekonomian dari Sektor pertanian. Namun, ada juga yang bekerja sebagai buruh pabrik dan merantau ke kota-kota besar sebagai pedagang. Jalur transportasi di kecamatan ini pun sudah lumayan bagus.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali terdiri dari 12 desa, yaitu Ngargorejo, Sobokerto, Ngesrep, Gagaksipat, Donohudan, Sawahan, Pandeyan, Kismoyoso, Dibal, Sindon, Manggung, Giriroto. Berikut penjelasan mengenai hasil penelitian di daerah tersebut.

A. Tingkat Pendidikan Di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali

Dari hasil data yang kami dapatkan di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali menunjukkan bahwa pendidikan masyarakat di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali terdiri dari jenjang-jenjang pendidikan usia lima tahun keatas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan pada tahun 2008 dan 2009 :

1.         PT (Perguruan Tinggi) / D IV

2008         =  920 jiwa

2009         =  785 jiwa

2.    Diploma

2008         =  962 jiwa

2009         =  887 jiwa

3.    SLTA

2008         =  10.930 jiwa

2009         =  10.518 jiwa

4.    SLTP

2008         =  16.797 jiwa

2009         =  16.275 jiwa

5.    SD

2008         =  21.613 jiwa

2009         =  22.578 jiwa

6.    Tidak/Belum Tamat SD

2008         =  14.008 jiwa

2009         =  14.518 jiwa

Dari data tersebut, terlihat bahwa jumlah masyarakat yang duduk di bangku Sekolah Dasar memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya. Hal ini dikarenakan mereka beranggapan bahwa pendidikan menjadi tidak penting sebab mereka lebih memilih untuk mencari pekerjaan dibandingkan bila melanjutkan sekolah. Sedangkan jumlah masyarakat yang berpendidikan Perguruan Tinggi / D IV sangat rendah. Hal ini terjadi selain karena faktor rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, status ekonomi juga menjadi faktor lainnya yang menyebabkan masyarakat di Kecamatan Ngemplak tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dilihat dari data tahun 2008-2009, terjadi penurunan jumlah masyarakat yang berpendidikan mulai dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi / D IV. Hal ini dikarenakan terjadinya peningkatan pada masyarakat yang tidak/belum tamat SD dimana peningkatan ini mencapai 3,7% dari tahun 2008 yang jumlahnya sebesar 14.008 jiwa. Inilah yang menyebabkan tingkat pendidikan ke jenjang berikutnya (SD, SLTP, SLTA, Diploma, dan PT/D IV) menjadi menurun di tahun 2009.

B. Jenis Pekerjaan

Dari data yang sama, di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali terdapat 9 jenis pekerjaan utama yaitu : pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, pertanian lainnya, industri pengolahan, perdagangan, jasa, dan angkutan. Berikut jumlah penduduk usia sepuluh tahun ke atas menurut lapangan pekerjaan utama :

1.      Pertanian Tanaman Pangan

2008          =  4.913 jiwa

2009          =  5.185 jiwa

2.    Perkebunan

2008         =  22 jiwa

2009         =  37 jiwa

3.    Perikanan

2008         =  153 jiwa

2009         =  177 jiwa

4.    Peternakan

2008         =  610 jiwa

2009         =  593 jiwa

5.    Pertanian lainnya

2008         =  946 jiwa

2009         =  942 jiwa

6.    Industri Pengolahan

2008         =  8.982 jiwa

2009         =  8.331 jiwa

7.    Perdagangan

2008         =  5.836 jiwa

2009         =  5.737 jiwa

8.    Jasa

2008         =  9.740 jiwa

2009         =  9.274 jiwa

9.    Angkutan

2008         =  618 jiwa

2009         =  661 jiwa

10.  Lainnya

2008         =  27.593 jiwa

2009         =  28.816 jiwa

Dari data diatas, dapat dilihat bahwa masyarakat di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali menunjukkan angka yang tinggi pada jenis pekerjaan lainnya (bukan pekerjaan utama). Pekerjaan lainnya tersebut meliputi kuli bangunan, ibu rumah tangga (buruh lepas), dan jenis pekerjaan lainnya yang tidak termasuk pada golongan pekerjaan utama. Hal ini terjadi karena faktor pendidikan yang rendah sehingga banyak penduduk Kecamatan Ngemplak yang bekerja dalam bidang-bidang tersebut, selain itu faktor ekonomi juga sangat mempengaruhi karena banyaknya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi sehingga memaksa mereka untuk bekerja. Di satu sisi, kurangnya minat masyarakat untuk bersekolah juga menjadi salah satu faktor tingginya angka pekerjaan di sektor lain.

Pekerjaan utama yang memiliki angka paling rendah terdapat di sektor perkebunan. Di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali memang jarang terdapat lahan perkebunan. Oleh sebab itu, jenis pekerjaan di bidang tersebut sangat sedikit. Kebanyakan yang bekerja di sektor perkebunan ini adalah warga yang merantau ke luar daerah, misalnya di Kalimantan.

C. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Dengan Jenis Pekerjaan

Dari analisis data diatas, jelas terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan jenis pekerjaan masyarakat Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Hal ini dapat kita lihat dari jenis pekerjaan yang di dapat oleh kebanyakan masyarakat tersebut. Semakin rendah tingkat pendidikannya, maka jenis pekerjaan yang diperoleh juga semakin rendah, misalnya hanya sebagai buruh bangunan, buruh pabrik ataupun buruh industri. Sedangkan mereka yang berpendidikan tinggi tidak menutup kemungkinan mereka bekerja di bidang pemerintahan, misalnya menjadi PNS, menjadi anggota DPR atau DPRD. Kebanyakan lulusan SMK merantau ke luar daerah ataupun negeri untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Sedangkan mereka yang berpendidikan sampai ke perguruan tinggi mendapat pekerjaan yang lebih baik daripada mereka yang hanya tamat SD.

Di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali ini rata-rata masyarakat lebih memilih untuk bekerja daripada mengenyam pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Karena mereka berfikir untuk menghasilkan uang dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Rendahnya pendidikan mereka tentunya berimbas kepada jenis pekerjaan yang diperoleh. Padahal, pendidikan sangat dibutuhkan bagi generasi muda penerus bangsa sehingga kita tidak hanya mengandalkan kekuatan/tenaga saja untuk melakukan suatu pekerjaan, namun juga diimbangi dengan cara berfikir / pola pikir yang cerdas dalam usaha untuk menyelesaikan suatu masalah. Hal inilah yang kemudian menjadi penting untuk dikaji sebab berdasarkan penelitian ini, kebanyakan masyarakat tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Bahkan mereka mulai mengindahkan arti penting pendidikan karena mereka merasa lebih baik langsung mencari pekerjaan dibandingkan bila harus duduk di bangku sekolah, mengenyam pendidikan.

Meski sektor pertanian di daerah Kecamatan Ngemplak tersebut sangat berperan penting dalam mata pencaharian masyarakat karena wilayahnya yang agraris, namun dari data yang kami dapat terlihat bahwa jenis-jenis pekerjaan utama seperti jasa dan pekerjaan non-utama lebih mendominasi. Jenis pekerjaan yang sangat mendominasi adalah jenis pekerjaan lain-lain (non-utama). Data tersebut cukup membuktikan bahwa pendidikan sangat berpengaruh penting terhadap jenis pekerjaan di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali karena rata-rata orang yag bekerja di sektor non-utama tersebut adalah pegawai lepas. Dan bukanlah pegawai ahli.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali mempengaruhi jenis pekerjaan yang diperoleh. Faktor ekonomi pada masyarakat juga berperan penting, karena banyak masyarakat dibawah umur yang telah bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka. Faktor ekonomi yang rendah juga membuat banyak anak usia sekolah tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Pendidikan yang rendah membuat masyarakat tersebut mendapat pekerjaan di sektor buruh.

B. Rekomendasi

Dari data yang diperoleh di penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan sangat mempengaruhi jenis pekerjaan seseorang. Dimana yang memiliki pendidikan yang tinggi, maka jenis pekerjaan yang diperoleh akan tinggi pula. Begitu sebaliknya, tingkat pendidikan yang rendah maka pekerjaan yang diperoleh rendah pula. Namun pada dasarnya, antara kedua hal tersebut haruslah seimbang.

Pendidikan sangatlah penting, meskipun masyarakat sangatlah mampu namun pemerintah juga harus ikut andil dalam pemecahan masalah tersebut. Dalam hal perekonomian pemerintah juga harus memikirkannya, misalnya melakukan pelatihan kerja kepada masyarakat sebagai modal masyarakat untuk berwirausaha untuk meningkatkan perekonomian. Hal ini dimaksudkan agar terjadi kesetaraan antara pendidikan dengan perekonomian masyarakat.

DAFTAR  PUSTAKA

Hasbullah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Rajagrafindo Persada : Jakarta

Ketenagakerjaan di Indonesia. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta

Lucas, David, dkk. 1995. Pengantar Kependudukan. Gadjah Mada University

Mada University Press : Yogyakarta

Mudjiman, Haris. 1998. Teknik Analisis Demografi. Sebelas Maret University

Press : Surakarta

Press : Yogyakarta

Rusli, Said. 1984. Pengantar Ilmu Kependudukan. LP3ES : Jakarta

Sosial Bekerja Sama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional : Jakarta

Suroto. 1992. Strategi Pembangunan dan Perencanaa Kesempatan Kerja. Gadjah

Tilfata, Herman, dkk. 1985. Studi Kependudukan. Konsorium Fakultas Ilmu

by: dora,arum, ipeh, indah, bela, ratna