Pengertian Pendidikan

1.    Arti Pendidikan menurut Etimologi

Paedagogie (pendidikan) berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata “Pais”, artinya anak, “Again”, artinya membimbing, jadi pedagogie yaitu bimbingan yang di berikan kepada anak.

2.    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

3.    Pengertian Pendidikan Menurut para tokoh

a.       John Dewey

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan- kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

b.      SA. Bratanata dkk.

Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perekembangannya dalam mencapai kedeewasaannya.

c.       Rousseau

Pendidikan adalah Memberi kita pada perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.

d.      Poerbakawatja dan Harahap (1981)

Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si Anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu memberikan tanggungjawab moril dari segala perbuatannya.

Aliran atau pendapat mengenai Pendidikan

1.    Aliran Naturalisme (kodrat) berpendapat bahwa pendidikan itu tidak perlu, sebab perkembangan anak itu tergantung dari kodrat yang dibawanya atau dimilikinya sejak dia belum dilahirkan. Menurut aliran ini bayi yang lahir telah membawa sifat-sifat dari orang tuanya, sehingga pendidikan bagi anak tidak mungkin berhasil.

2.    Aliran Empirisme (pengalaman) berpendapat bahwa anak yang baru lahir itu seperti kertas yang putih bersih. Sehingga pendidikan mampu membentuk anak sesuai dengan keinginan orang tua atau pendidik untuk mengarahkan anak untuk mencapai tujuan. Berhasil atau tidaknya keingingan tergantung bakat dan pembawaan dari anak itu sendiri, bilaa keinginan tidak sesuai dengan pembawaan maka sulitlah untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

3.    Aliran Convergensi berpendapat bahwa kodrat atau pembawaan maupun pengalaman lingkungan merupakan kesatuan mutlak dalam perkembangan anak.

Tujuan Pendidikan menurut Para Pakar

1.    Socrates (469-399 SM)

Tujuan pendidikan adalah mengembangkan daya pikir sehingga memungkinkan orang untuk mengerti pokok-pokok kesusilaan.

2.    Aristoteles (384-332 SM)

Tujuan pendidikan adalah membuat kehidupan rasional. Tingkah laku Individu tersebut hendaknya selalu dipimpin oleh akal.

3.    John Locke (Inggris, 1632-1704)

Tujuan pendidikan adalah pembentukan watak, perkembangan manusia sebagai kebulatan moral, jasmani dan mental.

4.    J.J Rousseau (Geneva, 1712-1778)

Tujuan pendidikan adalah mengembangkan pembawaan anak itu menurut alamnya.

Peran Pendidikan Terhadap Perkembangan

Menurut Wellman, kemajuan dalam intelligensi yang disebabkan karena pendidikan disebuah taman kanak-kanak disebabkan karena telah mendapat prangsang-perangsang dari situasi sosial di sekolah sehingga mereka mendapat dorongan untuk mengembangkan intelligensinya, sehingga makin lama mereka bersekolah maka makin tinggi pula tingkat intelligensinya. Peran sekolah Tidak hanya mempertinggi intelligensi anak tetapi peranan sekolah atao pendidikan jauh lebih luas yaitu pendidikan berperan sebagai pembentukan sikap-sikap dan kebiasaan yang wajar bagi individu, perangsang potensi individu, perkembangan kecakapan-kecakapan pada umumnya, belajar kerjasama dengan teman sekelompoknya, melaksanakan tuntutan – tuntutan dan contoh-contoh yang baik, belajar menahan diri demi kepentingan orang lain, yang semuanya mempunyai akibat pencerdasan otak atau tingkat intelligensi. Selain itu sekolah juga memegang peran penting dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekali terhadap jiwa anak. Maka disamping keluarga sebagai pusat pendidikan, sekolah pun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak atau individu.

Pengertian Perilaku

Perilaku atau aktifitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme yang yang bersangkutan baik stimulus eksternal maupun stimulus internal. Namun sebagian besar dari perilaku organisme sebagai respon terhadap stimulus ekternal. Pandangan kaum Behavioristik memandang bahwa perilaku sebagai respon terhadap stimulus, akan sangat ditentukan oleh keadaan stimulusnya, dan individu atau organisme seakan-akan tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan perilakunya, hubungan stimulus dan respon seakan-akan bersifat mekanistis. Sedangkan Aliran Kognitif memandang perilaku individu merupakan respon dari stimulus, namun dalam diri individu itu ada kemapuan untuk menentukan perilaku yang diambilnya. Berarti individu tersebut dalam keadaan aktif dalam menentukan perilaku yang diambilnya.

Sedangkan Pola perilaku merupakan hubungan definitif antara suatu stimulus dengan tanggapan, yang menyebabkan organisme berperilaku menurut cara tertentu dan seragam bilamana suatu stimulus tertentu terjadi. Pola perilaku mungkin bersifat naluriah (diwariskan) atau habitual (diperoleh atau dibentuk).

Jenis Perilaku

Skinner (1976) membedakan perilaku menjadi dua, yaitu

1.    Perilaku alami (innate behavior)

Perilaku alami yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan, yaitu berupa refleks-refleks dan insting-insting. Perilaku yang reflektif merupakan perilaku yang terjadi sebagai reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme yang bersangkutan. Misal : menarik jari bila jari terkena api, reaksi mata berkedip bila terkena sinar yang kuat, dan lain sebagainya. Reaksi atau perilaku seperti ini terjadi secara sendirinya, secara otomatis, tidak diperintah oleh pusat susunan syaraf atau otak.  Perilaku yang reflektif merupakan perilaku yang tidak dapat dikendalikan karena perilaku tersebut bersifat alami.

2.    Perilaku operan (operant behavior)

Perilaku operan yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar. perilaku non-reflaksif  yaitu perilaku yang dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Sebagian terbesar perilaku manusia merupakn perilaku yang dibentuk, perilaku yang diperoleh, perilaku yang dipelajari melaui proses belajar.

HIPOTESIS

Hubungan antara pendidikan dan perilaku individu

Ada hubungan antara pendidikan dan perilaku individu, sesuai dengan fungsi sekolah sebagai pusat pendidikan, yaitu pembentukan pribadi anak atau individu.  Dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan tersebut, mampu mempengaruhi perilaku individu dalam bertingkahlaku, karena  menurut John Locke, Tujuan pendidikan adalah pembentukan watak, perkembangan manusia sebagai kebulatan moral, jasmani dan mental. Perilaku individu dapat diperoleh pula melalui proses belajar yang kontinu.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati.1991. Ilmu Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta

Ahmadi, Abu.1991.Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta

Gerungan,W.A.2004.Psikologi Sosial. Bnadung:Rafika Aditama

Hasbullah.2005.Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.Jakarta;Rajawali Pers

Mannheim, Karl.1985.Sosiologi Sistematis. Jakarta: Rajawali Pers

Mitchel, Duncan.1984.Sosiologi Suatu Analisa Sistem Sosial.Jakarta:Bina Aksara

Partowisastro, Koestoer.1983.Dinamika Dalam Psikologi Pendidikan.Jakarta: Erlangga

Sukmodinata, Nana Syaodih.2004.Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:Remaja Rosdakarya

Syah,Muhibbin.2005.Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: Remaja Rosdakarya

Walgito,Bimo.2003.Psikologi Sosial (Suatu Pengantar).Yogyakarta:Andi