Etnometodologi berasal tiga kata Yunani, Etnos yang berarti orang, Metodos yang berarti metode, dan Logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah etnometodologi adalah sebuah studi atau ilmu tentang metode yang digunakan oleh orang awam atau masyarakat biasa untuk menciptakan perasaan keteraturan atau keseimbangan didalam situasi dimana mereka berinteraksi.

Etnometodologi merupakan kumpulan pengetahuan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur dan pertimbangan (metode) yang dengannya masyarakat biasa dapat memahami, mencari tahu, dan bertindak berdasarkan situasi dimana mereka menemukan dirinya sendiri (Heritage, 1984:4).

Teori ini dicetuskan oleh Harold Garfinkel dikahir tahun 1940-an, namun baru menjadi sistematis setalah diterbitkan karyanya Studies in Etnhometodology pada 1967. Teori ini lahir pada masa modernitas atau zaman keemasan perkembangan penelitian kualitatif, sebagai kritik terhadap aliran-aliran utama sosiologi yang menurutnya terlalu memaksakan kategori-kategori sosial kepada orang-orang biasa.

Akar-Akar Intelektual Etnometodologi

1. Interaksionisme Simbolik dengan Etnometodologi

Keprihatianan utama interaksionisme simbolik adalah bagaimana makna-makna atau definisi-definisi dibiptakan oeh aktor-aktor yang sedang berinteraksi. Penekanannya terletak pada proses interaksi dan bagaimana aktor-aktor menciptakan arti-arti yang sama dalam berhbungan satu sama lain. Etnometodologi juga memusatkan perhatiannya pada interaksi dan pembentukan arti-arti didalam situasi-situasi itu.

2. Analisis Dramaturgi Goffman dengan Etnometodologi

Disebut dramaturgi karena dia memusatkan perhatiannya pada cara-cara bagaimana aktor memanipulasi gerak isyarat untuk menciptakan kesan didalam sebuah panggung pertunjukan. Goffman menekankan pentingnya proses manejemen pesan itu sendiri dan tidak peduli dengan tujuan atau sasaran yang mau dicapai dari aksi tersebut.

3. Fenomenologi dan Etnometodologi

Fenomenologi Alfred Schutz membebaskan fenomenologi dari proyek filosofis Husserl, dia menekankan pentingnya studi tentang bagaimana interaksi menciptakan dan mempertahankan realitas sosial tertentu.  Fenomenologi menaruh perhatian khusus pada bagaimana aktor-aktor mencapai perspektif timbal balik dan membangun dunia kehidupan sehari-hari. Etnometodologi menyesuaikan analisis pfenomenologi dengan isu tentang bagaimana keteraturan sosial diperthankan dengan prakte-praktek yang biasa dilakukan aktor untuk menciptakan rara bahwa mereka menghayati dunia kehidupan yang sama.

Representasi Fakta Sosial

Dalam pemikiran etnometodologi, para sosiolog yang lebih menitikberatkan pada fakta sosial disebut sebagai “kesepakatan si-dungu” (judgment dopes). Karena dikalangan etnometodologi fakta sosial dilhat sebgai prestasi anggota, atau produk aktifitas metodologi anggota, yang bersifat lokal dan dihsilkan secara endogenous untuk mengatasi masalahnya sendiri (Ritzer, 1996:235, Denzin 1994:264). Realitas objektif fakta sosial bagi etnometodologi adalah fenomena fundamental sosiologi karena merupakan setiap produk masyarakat setempat yang diciptakan dan diorganisir secara alamiah, terus menerus, prestasi praktis, selalu, hanya, pasti dan menyeluruh, tanpa henti dan tanpa peluang menghindar, menyembunyikan diri, melampaui, atau menunda ( Garfinkel,1991:11). Dengan kata lain etnometodologi memusatkan perhatiannya pada organisasi kehidupan sehari-hari atau seperti digambarkan Garfinkel (1988:104). “masyarakat biasa yang abadi”.

Masyarakat Sebagai Bidang Kajian

Kajian etnometodologi memiliki ragam yang berbeda karena kajiannya adalah bergam prilaku sehari-hari maka muncul banyak jenis kajian lanjutan sesuai degan disiplin ilmu tertentu. Menurut Maynard dan Clayman menggambarkan sejumlah varasi kerja etnometodologi. Yaitu pertama, bahwa studi etnometodologi berlatar belakang analisis institusional. Kedua, studi etnometodologi menaruh perhatian pada analisis percakapan dengan tujuan untuk memahami secara detail struktur fundamental dan interaksi percakpan.

Etnometodologi memiliki beberapa asumsi yang diterangkan oleh Psatas dalam McQuarie,1995 adalah sebagai berikut:

a.       Terjadi asas recipocal (bolak balik).

b.      Objektifitas dan ketidakraguan dari apa yang tampak

c.       Adanya proses yang sama

d.      Adanya proses indexicality

e.       Adanya proses reflectifity

Praktek etnometodologi dengan masyarakat sebagi bidang kajian memiliki implikasi yang bersumber dari keterbatasan sifat manusia itu sendiri.

a.       Perihal eksistensi masyarakat

b.      Keterbatasan pengetahuan tentang manusia akan menimbulkan tindakan atau pemikiran yang mengurangi kesulitan yang berkaitan dengan ndexicality dan reflectifity.

c.       Masalah kelemahan atau keterbatasan pengetahuan manusia.

Perbandingan dan Pertautan Metode Grounded Theory dan Etnometodologi

Metode gruonded theory bertolat dari kajian lapangan, akan tetapi dalam pembentukan proposisi yang menyataakan hubungan antarkonsep ( pembentukan dalil-dalil empirik) metode tersebut bergantung pada upaya periset. Dalam etnometodologi realitas dihasilkan dari dalam melalui prosedur interpretif para anggotanya. Jadi, metode gruonded theory  dan etnometodologi bertolak dari tataran yang sama ( mikro). Keduanya memiliki perspektif yang tidak jauh berbeda ( berusaha membangun cakrawala pemahaman yang lebih mendasar tentang masyarakat lokal). Metode gruonded theory berupaya menjelaskan fenomena yang diteliti secara menyeluruh, atau bersifat holistik. Metode etnometodologi menyiratkan sejumlah harapan yang wajar, sekalipun metode ini tidak memiliki hubungan langsung dengan pembangunan teori baru, tetapi cara kerjanya dalam mengupas peran aktor sosial akan cukup menyibak kekenyalan data sosial.

Etnometodologi  sebagai Metode Penelitian Kualitatif

Etnometodologi memiliki kekuatan sebagai metode yang otonom, terutama untuk mengupas berbagai masalah sosial. Metode ini merupakan model penelitian kualitatif yang menempatkan penghampiran induktif sebagai acuan utama. Etnometodologi sebagai model peneelitian kualitatif:

a.       Etnometodologi merupakan kelompok metode dalam penelitian kualitatif yang memusatkan kajiannya pada relitas yang memiliki penafsiran praktis, atau sebagai pendekatan pada sifat kemanusiaan yang meliputi pemaknaan pada perilaku nyata ( Janesick dalam Denzin and Lincoln, 1994:20).

b.      Etnometodologi merupakan strategi yang dapat dilakukan melaui analisis wacana ( discourse analysist).

c.       Etnometodologi memiliki keunggulan dalam menghampiri kehidupan empirik.

d.      Etnometodologi menitikberatkan pada pada pemahaman diri dan pengalaman hidup sehari-hari.

Kritik Sosiologi terhadap Etnometodologi

a.       Terfokus pada Masalah-masalah yang Sangat Elementer

Para sosiolog memandang bahwa etnometodologi cenderung memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah sepele dan mengabaikan isu-isu yang penting yang ada di masyarkat. Tantangan yang dihadapi etnometodologi berkaitan dengan isu-isu penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang didalamnya peristiwa atau permasalahan yang banyak terjadi.

b.      Etnometodologo Kehilangan Akar Fenomenologisnya

Etnometodologi telah kehilangan akar fenomenologisnya dan keterkaitannya pada proses kesadaran kognitif, dan sebagai gantinya, ada upaya untuk mengalihkan pandangan pada proses kesadaran.

c.       Hubungan Pekerjaan Etnometodologi dengan  Struktur Sosial yang  Besar

Para ahli memandang bahwa etnometodologi cenderung memandang diri mereka sebagai jembatan pembagian mikro dan makro.

d.      Enometodologi Telah Kehilangan Pandangan Reflektivitas Radikalnya

Kritik terhadap etnometodologi yakni, bahwa metode ini telah telah kehilangan sifat reflektivitas radikal dari bentuknya yang asli.

e.       Etnometodologi Menjurus pada Pengetahuan yang Ajaib

Sikap pendekatan etnometodologi untuk menerima metode yang digunakan oleh orang yang sedang diteliti ketimbang menerapkan metode universal yang bisa digunakan, ini dianggap sebagai cara berfikir baru ( Vredenbregt, 1985: vii-ix). Kalau pendekatan ini diterima dan dipraktikan, maka hal itu akan menjurus pada suatu ilmu pengetahuan yang “sangat ajaib”.

Daftar Pustaka

Salim Agus. 2006. Teori dan Paradigma ( Penelitian Sosial). Yogyakarta: Tiara Wacana.

Raho Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Ritzer George, J. Goodman Douglas. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.