PENGEMBANGAN TEATER TRADISIONAL KETOPRAK DENGAN PENDEKATAN TEATRIKAL, TEKSTUAL, DAN SOSIOBUDAYA UNTUK MENUMBUHKAN INDUSTRI KREATIF SENI BUDAYA


Teater Tradisional Ketoprak

Teater tradisional dibagi menjadi dua, yaitu teater tradisional kraton (kerajaan) dan teater tradisional  rakyat. (Jacob Sumardjo,2004:18). Teater tradisonal kraton dikembangkan oleh para seniman istana yang tujuannya untuk mengangkat kebesaran atau kemuliaan raja. Para seniman menciptakan karya-karya yang mewakili istana dengan berbagai nilai religiusnya dan tidak lepas pula dari nilai hiburan yang menekankan pada selera keindahan yang tinggi.  Jenis teater kraton antara lain wayang kulit, wayang orang, langendriya, dan lain sebagainya.

Teater tradisional rakyat adalah teater yang berkembang di kalangan masyarakat pedesaan. Teater ini lahir ditengah-tengah rakyat dan  berkaitan dengan upacara adat, keagamaan, maupun tontonan yang bersifat menghibur. Teater tradisional rakyat pada umumnya bersifat improvisasi, spontan, dan sederhana. Unsur tari, musik, dan cerita menjadi hal penting dan respon penonton mengenai cerita yang dibawakan menentukan jalan cerita saat pementasan. Jenis teater ini adalah kentrung, ludruk, srandul, ketoprak, jatilan, reog, dan sebagainya.

Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang sampai saat ini masih dapat ditemukan keberadaannya. Teater ketoprak tumbuh dan berkembang pertama kali di kalangan rakyat pedesaan di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur. Tersebar luasnya ketoprak diketiga wilayah yang luas ini diperkirakan karena ketiga wilayah tersebut merupakan wilayah kekuasaan kerajaan mataram dimana kraton mataram mengembangkan bahasa jawa sebagai bahasa komunikasi masyarakat. Menurut Jacob Sumardjo (2004:60) embrio ketoprak muncul pada tahun 1887 dan memperoleh bentuknya yang mapan pada tahun 1920. Menurut Bondan Nusantara (Http ://www.jawategah.go.id) ketoprak dengan perangkap yang lengkap lahir di surakarta pada tahun 1920 dan mencapai puncaknya di jogjakarta pada tahun 1960-an.

Kuswadji Kawindrasusanta ( dalam Handung Kus Sudyarsana, 1985:65) menyatakan bahwa istilah ketoprak berasal dari nama alat musik “keprak” yang ketika dibunyikan mengeluarkan suara “prak,prak,prak”. Ranggawarsita pun berpendapat serupa bahwa istilah ketoprak memiliki arti Kothekan.

Jenis ketoprak dapat dibagi menjadi empat, antara lain : ketoprak lesung, ketoprak mataram, ketoprak tobong (keliling), dan ketoprak pendapan. Ketoprak lesung pada mulanya hanya berupa permainan orang desa menabuh lesung secara berirama diikuti nyanyian pada waktu bulan purnama. Seiring perkembangannya, ketoprak lesung dmainkan dengan alat tetabuhan 1 lesung, 1 kendang, dan 1 seruling. Ketoprak Mataram berkembang di jogjakarta dan merupakan jenis ketoprak gamelan yang pertama. Dengan menggunakan gamelan, suara yang ditimbulkan lebih bervariasi, bahasa yang digunakan juga bervariasi. Cerita yang ditampilkan berasal dari legenda, dongeng, cerita panji, babad, dan lain sebagainya. Ketoprak Tobong atau Ketoprak keliling adalah ketoprak yang berpenyas secara berkeliling dari satu desa ke desa lain atau satu kota ke kota lain sehingga dalam suatu tempat bisa 3-4 bulan. Ketoprak ini muncul seiring fungsi ketoprak sebagai hiburan yang bersifat komersil. Pada awalnya, Ketoprak Pendapan dilakukan di dalem priyayi, misal di dalem jayanegaran, kertanaden, atau mangkukusuman jogjakarta.  Tetapi seiring berjalannya waktu dipentaskan di pendapa kantor kabupaten atau kantor kalurahan.

Pendekatan Tekstual

Pendekatan tekstual adalah pendekatan intrinsik yang terdapat pada pendekatan strukturalisme drama. Pendekatan tekstual yang digunakan meliputi alur, penokohan, latar dan dialog. Alur diharapkan mampu menghadirkan konflik antartokoh yang mengandung nilai dramatik yang tinggi. Penyusunan tokoh dan perwatakannya mampu menunjukkan tokoh dan perwatakan yang Lifelikeness dan para pemain dapat menterjemahkan hal itu ketika berpentas. Latar juga dapat ditunjukkan dengan jelas melalui naskah dan dapat diterjemahkan secara tepat melalui tatdekornya. Sementara itu, dialog antartokoh pun dapat menunjukkan dialog yang mampu menampilkan tokoh sesuai perwatakannya.

Pendekatan Teatrikal

Pendekatan teatrikal terdiri dari akting, tatarias, tatabusana, tatalampu, tatapentas (dekorasi), tatasuara (musik). Menurut Handung Kus Sudyarsana (1992:6) dalam pementasan teater tradisionla yang mengandalkan improvisasi, sering pemain terpaku hanya pada satu karakter tokoh. Improvisasi adalah tanpa adanya naskah, maka setiap pemain hanya memahami satu karakter tokoh yang tinggal diulang-ulang pada setiap pementasan. Tatarias merupakan seni menggunkan bahan kosmetik untuk menciptakan wajah peran sesuai tuntutan lakon. Tatabusana bertujuan membantu mengidentifikasi periode saat lakon dimainkan, mampu membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lainnya, menunjukkan status sosial tokoh ketoprak, dan mengekpresikan usia seseorang. Lampu dalam panggung ketoprak berfungsi sebagai hiasan yang berpengaruh pada suasana pentas.

Kondisi Ketoprak Masa Kini

Teater tradisional ketoprak pernah mengakami kejayaan pada dekade 1960-an sampai dengan 1990-an dengan munculnya berbagai grup ketoprak yang digemari masyarakat seperti Siswo Budoyo dari Tulungagung, Darmo Mudho dari Madiun, Sapta Mandala dari Jogjakarta, Cokrojio dari Surakarta, dan Lin-lain. Namun, kini kesenian tradisional ketoprak menghadapi masalah berkenaan dengan eksistensi dirinya menghadapi kepunahan. Sri Hastanto Soedarsono (1993) mengatakan bahwa persaingan dengan kesenian modern yang dikemas dengan teknologi canggih serta sifat kesenian tradisonal yang statis (Stereotype) menjadikan kesenian tradisional kurang diminati masyarakat. Bambang Murtiyoso (2005) mengatakan bahwa media bahasa, dalam hal ini bahasa jawa, menyebabkan masyarakat penikmat ketoprak sangat terbatas. Mereka yang berasal dari non-jawa tidak mampu menikmati kesenian ini. Penonton usia muda yang umumnya sudah menggunkan bahasa indonesia sebagai bahasa ibu juga kurang mampu menikmati bahasa jawa yang digunakan dalam ketoprak.

Agar kejenuhan terhadap ketoprak dapat dihilangkan, maka ada berbagai upaya melestarikan kembali jenis seni tradisional. Ketoprak Siswo Budhoyo dan Sapta Mandala memperbaharui dari segi akting, karena improvisasi yang masih kental, sehingga pelestariannya kurang berhasil. Usaha lain dilakukan dengan mendirikan ketoprak humor yang nerpentas di indosiar. Ketoprak seniman Muda dan ketoprak Siswo Budhoyo yunior juga mnegupayakan kelestarian ketoprak melaui pembuatan kaset atau VCD lakon ketoprak yang mereka pentaskan. Namun, upaya pengemasan seni tradisional melalui teknologi modern sebenarnya mendorong semakin terpuruknya ketoprak. Ketoprak yang semula berbahasa jawa, dalam upaya penyebarluasan melaui media televisi, digunakanlah bahasa Indonesia. Oleh beberapa pakar ketoprak, hal ini dianggap merusak pakem ketoprak. Penggunaan bahasa jawa dalam ketoprak memiliki makna bahwa ketoprak merupakan lat ekspresi, alat komunikasi, dan simbil eksistensi manusia jawa dalam tatanan makrokosmos dan mikrokosmos. Ada nilai estetika,sosiobudaya, dan pendidikan yang disampaikan melalui ketoprak dengan menggunkan bahasa jawa tersebut (joko Budianto,2009).

Pengembangan ketoprak harus memungkinkan ketoprak menggunkan naskah dan berakting (tidak mengandalkan improvisasi). Kesulitan penaskahan dan amalisir pentas dapat diatasi dengan pendekatan sosial budaya setempt yang kaya akan cerita-cerita, musik dan berbagai kelengakapan pementasan yang lain.

Hasil Penelitian

Penelitian pengembangan tersebut dilakukan pada teater tradisional ketoprak melalui perkembangan pendekatan tekstual, treaterikal, dan sosiobudaya. Pengembangan pendekatan tekstual dilakukan melaui pembuatan naskah ketoprak yang memenuhi syarat-syarat aspek tekstual naskah drama yang baik. Pengembangan naskah dilengkapi dengan mengembangkan cerita berdasar latarbelakang sosiobudaya surakarta. Pengembangan teaterikal dilakukan melalui pengembangan akting. Tatarias, tatapanggung, tatamusik, tatalampu, dan tatabusana. Ada 3 grup yang menjadi sampel penelitian tersebut, yaitu grup ketoprak Kelana Bakti Budaya, Mudha Budaya, dan Ngampung Balekambang.

Peneliti melakukan penelitian selama sepuluh bulan dengan 3 kelompok ketoprak dan setiap tahap penelitian melibatkan expert Judgement baik dari kalangan akademis maupun praktisi ketoprak. Tahap I penelitian berupa persiapan, eksplorasi, dan penyusunan produk awal naskah ketoprak. Pada tahap persiapan, peneliti mencari beberapa kelompok ketoprak untuk sampel dan setelah itu peneliti melakukan wawancara kepada pimpinan dan beberapa anggota kelompok ketoprak. Tahap eksplorasi, peneliti mengeksplorasi berbagai cerita yang berlatar lokal sosialbudaya jawa, khususnya Surakarta. Pada tahap penyusunan Produk awal naskah ketoprak, peneliti bersama tim membuat naskah ketoprak sesuai cerita yang dipilih dengan memperhatikan aspek tektual cerita. Naskah mempergunakan bahasa pengantar bahasa jawa yang menunjukkan nilai etika dan estetika masyarakat jawa.

Tahap II adalah tahap Validasi naskah lakon. Naskah yang telah b erhasil disusun disampaikan kepada expert judgement. Setelah itu, peneliti menyampaikan naskah kepada masing-masing kelompok untuk dipelajari dan dipentaskan setelah berlatih selama 7 kali dalam 2 minggu. Kendala utama yang dihadapi para pemain menghafal, memahami naskah, dan berperan sesuai perwatakan tokoh. Expert judgement menyatkan bahwa kelompok ketoprak telah berlatih dengan baik dan siap berpentas, maka ujicoba awala lakon dilakukan. Kelompok toprak  Kelana Bakti Budaya, didapati beberapa kelemahan meliputi : 1) pemain tidak hafal naskah, sehingga banyak melakukan improvisasi. 2) sebelum pertunjukan ketoprak dimulai, iringan gamelan diselingi tembang jawa berlangsung cukup lama. 3) setiap pergantian adegan selalu diselingi tembang jawa dengan dengan porsi waktu yang cukup lama. 4) tatabusana yang bersifat stereotip dan tatarias yang terlalu tebal.

Pada kelompok ketoprak Mudha Buday, kelemahannya meliputi:1) para pemain tidak hafal naskah dan kurang improvisasi karena pemain gugup. 2) pemain masih kurang menjiwai karakter tokoh yang diperankan. 4) adegan perang massih banyak kelemahannya. Kelemahan pada kelompok Ngampung Balekambang, 1) pemain tidak hafal naskah sehingga banyak improvisasi dan banyak menampilkan dagelan.2) pentas berbentuk arena sehingga banyak penonton yang tidak bisa melihat pertunjukan.

Kelemahan-kelemahan tersebut diperbaikai dengan melakukan diskusi anatara peneliti dan para pemain. Kelemahan disampaikan kepada para pemain dan peneliti mengajak pemain untuk berlatih kembali menghafal dialog, improvisasi secukupnya, dan berlatih adegan perang guna memperbaiki penampilan mereka diatas panggung. Latihan dilakukan selama 3 minggu. Ketika para pemain merasa telah siap, maka mereka kembali berpentas diatas panggung dengan naskah yang sama. Pada tahap II tersebut, pemain sudah baik dalam berdialog, berperan sesuai karakter, dan dapat menghayati berbagai peran watak. Waktu pertunjukan telah dapat dipadatkan menjadi 2 jam, tetapi menurut peneliti masih terlalu lama. Kelemahan lain dalam tahap II tersebut adalah ketika kelompok ketoprak menghadirkan beberapa pemain baru yang semula tidak ada dan tidak ada dalam naskah. Dekor, tatalampu, tatabsuara perlu diperbaiki.

Pada tahap akhir, dilakukan latihan akting, perbaikan tetrikal secara maksimal untuk pementasan terakhir. Pada hari yang telah ditentukan, pentas ketoprak akhirpun digelar. Pada pentas tersebut, peneliti menghadirkan video shooting broadcast untuk merekam pentas akhir ketoprak. Tahap selanjutnya adalah tahap produksi dan desiminasi. Pada tahap ini peneliti mencetak hasil rekaman dalam bentuk DVD dan VCD tayangan ketoprak yang telah dikembangkan secara teatrikal, tekstual, dan sosiobudaya. Ternyata tayangan ketoprak tersebut dapat berkangsung selama 1,5 jam dengan aspek tekstual dan teatrikal yang baik.

Ketoprak merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Meskipun pada saat ini ketoprak telah bergeser oleh seni hiburan modern melalui media audiovisual, tetapi upaya untuk melestarikannya haruslah tetap dilakukan. Upaya pengemasan melalui pendekatan teatrikal, tekstual dan sosiobudaya diharapkan dapat menjadi alternatif pelestarian ketoprak, meskipun pengemasan tersebut tidak harus keluar dari pakem ketoprak.

Daftar Pustaka

LPPM UNS.2010.TOP RISET.surakarta:LPPM UNS