Sejarah Dunia Ke tiga

Istilah dunia ketiga mulai populer sejak tahun 60-an. Istilah tersebut diperkenalkan kepada publikyang berbahasa inggris, Peter Worsley (1964) dan Irving Louis Horowitz (1966) dalam bukunya three worlds of development. Dunia pada saat ini dilihat dari pola kemajuannya ditandai dengan tiga kelompok negara, yaitu dunia pertama yang disebut dunia bebas atau blok atlantik yang meliputi Eropa Non-Komunis dan Amerika Utara. Dunia kedua meliputi negara-negara Eropa Timur atau Blok Uni Sovyet, dan dunia ketiga meliputi Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Pada umumnya negara dunia ketiga adalah negara-negara yang terletak di sekitar dan diselatan katulistiwa, sedangkan dunia pertama dan kedua di sebelah utara. Dunia pertama dan kedua bersama-sama berpenduduk 30% dari jumlah penduduk seluruh dunia dan menghuni 40% daratan dari seluruhnya. Selebihnya adalah sejumlah besar negara merdeka yang baru saja melepaskan diri dari penjajahan. Sehingga didalam negara dunia ketiga terdapat negara paling miskin di dunia dan secara teknologis sangat terbelakang. Namun negara-negara tersebut mempunyai sumber-sumber alam yang kaya raya dan potensial untuk mencapai kemajuan negaranya.

Tamas Szentes, dalam bukunya yang berjudul The political Economy of Underdevelopment (1976), menyatakan bahwa keterbelakangan dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu :

1.    Adanya keterbatasan Sumber-sumber, baik sumber alam maupun sumber manusia.

2.    Keterbelakangan danggap sebagai keterlambatan dalam arti lingkaran setan statik (static vicious circle) atau sistem yang berkeseimbangan stabil semu (quasi-stable equilibrium system).

3.    Dapat dipandang sebagai keterikatan tradisi.

4.    Keterbelakangan dianggap sebagai kondisi yang bersifat historik sebagai akibat kesenjangan yang terjadi antara negara maju dengan negara berkembang sementara negara lain sudah jauh mendahului dengan kecepatan yang berbeda.

5.    Keterbelakangan dianggap sebagai akibat ketidakseimbangan dalam hubungan internasional.

Kegagalan Industrialisasi Di negara Ketiga

Industrialisasi dan modernisasi yang dijalankan negara-negara dunia ketiga tidak berjalan mulus. Banyak negara-negara dunia ketiga telah gagal dalam menjalankan industrialisasi. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya kegagalan industrialisasi di Amerika Latin. Teori ketergantungan yang dikemukakan oleh Raul Prebisch, Secara umum, Prebisch menyatakan bahwa sistem perdagangan internasional memaksa negara-negara yang kurang berkembang (LDCs) berperan sebagai produsen dari bahan-bahan utama dan bahan-bahan mentah, sementara negara maju terus mendapatkan kesejahteraan sebagai produsen barang-barang industri. Pembagian kerja internasional seperti ini memaksa ketergantungan negara kurang berkembang terhadap negara-negara maju untuk menjadi outlet dari produk utama LDCs. Selain itu, spesialisasi produksi seperti ini mengabadikan ketergantungan LDC kepada negara-negara maju dalam hal modal dan teknologi (Balaam & Veseth, 2001:329).

Teori sistem dunia yang dikemukakan oleh Wallerstein. Menurut Wallerstein, sistem dunia modern bukan hanya satu-satunya sistem dunia yang ada. Ada banyak tipe sistem dunia dan salah satunya adalah sistem dunia perekonomian kapitalis. Sistem dunia perekonomian kapitalis adalah suatu sistem yang terbentuk secara sosial, terstruktur dengan adanya pembagian tenaga kerja, yang mana prinsipnya adalah kemudahan akumulasi kapital (Wallerstein, dalam Booth : 87). Wallerstein kemudian membagi dunia menjadi tiga bagian yaitu core, semi-periphery, dan periphery. Core merupakan negara yang memiliki kapital sedangkan periphery merupakan negara yang memiliki tenaga kerja. Sehingga, relasi antar keduanya cenderung bersifat eksploitatif dimana core yang memiliki kapital mengeksploitasi periphery yang hanya memiliki tenaga kerja sementara tidak memiliki kapitaln (Wallerstein, dalam Booth:88).

Berdasarkan teori-teori tersebut, disimpulkan bahwa kegagalan industrialisasi di negara-negara dunia ketiga lebih merupakan problem struktural karena struktur internasional yang berupa perekonomian kapitalis serta sistem perdagangan internasional yang hanya mengonsentrasikan industri di tangan negara-negara maju hanya akan membuat negara-negara dunia ketiga tergantung terhadap negara maju sementara negara-negara maju menikmati kesejahteraan. Industrialisasi yang dijalankan melalui pembangunan ternyata tidak memberikan kesejahteraan kepada negara dunia ketiga. Hal tersebut dikarenakan adanya industrialisasi justru makin memperkaya negara maju dan mempermiskin negara berkembang. Negara maju berkonsentrasi pada industri sedangkan negara dunia ketiga berkonsentrasi pada penyediaan bahan mentah.

Hubungan Antara Negara Maju Dengan Negara Dunia Ketiga

Hubungan yang terjalin antara negara maju dengan negara dunia ketiga bersifat hubungan ketergantungan. Hubungan ketergantungan terjadi karena negara dunia ketiga bergantung kepada negara maju yang memiliki modal dalam sistem perekonomian dunia yang kapitalis. Ketergantungan negara dunia ketiga terhadap dunia maju disebabkan oleh beberapa hal. Yanuar Ikbar menyatakan bahwa ada empat hal yang menyebakan ketergantungan antar negara berkembang terhadap negara maju (Ikbar, 2006:180).

1.    alasan ekonomi. Alasan ekonomi ini lebih disebabkan pasca merdeka dan baru berdiri sebagai suatu negara baru, negara-negara dunia ketiga masih belum memiliki kapabilitas yang cukup untuk melakukan pembangunan secara mandiri. Sehingga, negara-negara tersebut berusaha untuk mencari bantuan kepada negara-negara maju agar membantunya dalam hal pembangunan.

2.    Alasan teknologi, negara-negara maju memiliki kelebihan di bidang teknologi dibandingkan negara-negara dunia ketiga. Maka dari itu, secara tidak langsung negara-negara dunia ketiga berusaha untuk mendekati negara-negara maju demi mendapatkan transfer teknologi.

3.    Masalah kemananan, sama halnya dengan bidang teknologi dalam bidang militerpun negaja-negara maju jauh lebih mapan sehingga banyak negara-negara dunia ketiga yang melakukan kerjasama bidang kemanan dengan negara-negara maju.

4.    Masalah sosial lainnnya, yaitu merupakan upaya negara agar mencapai kesejahteraan rakyatnya. Negara-negara dunia ketiga melakukan pinjaman luar negeri untuk memperbaiki kehidupan yang menunjang bagi sarana dan prasana dalam negerinya sehingga kesejahteraan dalam negeri dapat tercapai.

Agar terlepas dari ketergantungan ini maka negara dunia ketiga membentuk suatu solusi baru terkait dengan sistem perekonomian dunia yang kapitalis dan sistem perdagangan yang hanya menguntungkan negara maju saja. Solusi yang dicetuskan adalah Tata Ekonomi Dunia Baru (New International Economic Order) yang mana negara dunia ketiga mendapatkan peran yang cukup dan mampu mengimbangi negara maju sehingga kegagalan industrialisasi tidak akan terjadi lagi. Namun, solusi ini juga gagal karena beberapa negara industri yang dipimpin AS menolak pengimplementasian NIEO.

Daftar Pustaka

Clark, P Robert.1989.Menguak Kekuasaan dan Politik Di Dunia Ke Tiga. Jakarta:Erlangga

Ndraha,Taliziduhu.PEMBANGUNAN MASYARAKAT Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas.Rineka Cipta

Goldthorpe,J.E.1992. SOSIOLOGI DUNIA KE TIGA Kesenjangan dan Pembangunan. Jakarta:Gramedia