Pengertian Populasi dan Sampel

Menurut Sudjana dalam buku Metoda Statistik mengatakan bahwa: Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung maupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif, daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas. Pengertian lain mengungkapkan Populasi adalah sekelompok subjek, baik manusia, gejala, nilai test, benda-benda ataupun Peristiwa. Menurut Sutrisno Hadi, populasi adalah semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel itu hendak digeneralisasikan. Jadi, Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian.

Sampel secara sederhana sebagai bagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian. Dengan kata lain Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili seluruh populasi. Sutrisno Hadi mengatakan Sampel adalh sebagian individu yang diselidiku itu disebut sampel, sampel atau contoh. Sedang Sudjana Menyebutkan Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi dengan menggunakan cara-cara tertentu.

Sebab – sebab penelitian menggunakan sampel :

1.    Ukuran populasi

Dengan jumlah Populasi terbatas yang jumlahnya sangat besar,tidak praktis bila mengumpulkan data dari seluruh populasi tersebut, maka dibutuhkan sampel untuk memudahkan peneliti menganalisa data. Misalnya populasi yang terdiri dari 1 juta penduduk miskin yang tersebar diseluruh daerah. Sehubungan dengan itu perlu ditetpkan populasi teoritis yang bersifat konseptual dan jelas karakteristiknya. Dengan menentukan karakteristik populasi maka populasi dapat dijadikan sebagai sumber data yang terbatas dan sekaligus sebagai sumber data yang tak terbatas atau parameter. Dengan menghimpun data dari sampel yang memenuhi karakteristik populasi teoritis, dimungkinkan menarik kesimpulan atau merumuskan geberalisasi yang ruang lingkupnya cukup luas.

2.    Masalah biaya

Semakin besar jumlah objek yang menjadi sumber data dan wilayahnya cukup luas, maka semakin besar biaya yang diperlukan, sehingga dengan menggunakan teknik sampel akan lebih meringankan penelitian terhadap populasi dilihat dari segi pembiayaan.

3.    Masalah waktu

Jika gejala yang diteliti sangat mudah berubah, sedangkan hasilnya harus segera, maka penelitian harus menggunkan sejumlah sampel sebagai sumber data, karena bila penelitian dilakukan dengan objek yang lebih besar jumlahnya pasti akan lebih sulit memperoleh dat yang lengkap dan objektif.

4.    Penelitian yang dapat merusak

Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh unsur populasi karena dapat merusak atau menimbulkan kerugian – kerugian terhadap objek penelitian. Oleh karena itu penelitian harus dilakukan dengan teknik sampel. Misalnya untuk mengetahui kedaan darah seorang pasien, tidak mungkin mengeluarkan seluruh darahnya untuk dianalisa, tetapi cukup dengan mengambil sebagian saja darahnya, untuk dianalisa.

5.    Masalah penelitian

Untuk menguji sebuah hipotesa diperlukan sejumlah data yang relevan yang pengumpulannya harus dilakukan secara teliti dan benar dalam melakukan analisa. Jumlah populasi yang cukup besar sangat mudah mengundang kecerobohan dan kebosanan, dengan menggunakan sampel dimungkinkan menghindari kecerobohan dan kebosanan terutama bila pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan interview yang berulang-ulang.

6.    Masalah ekonomis

Apabila hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan biaya, waktu, dan tenaga yang digunakan, berarti penelitian tersebut tidak ekonomis. Dengan kata lain penelitian dengan sampel akan lebih ekonomis daripada penelitan terhadap populasi.

Teknik Sampling

Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif atau benar-benar mewakili populasi.

Tahap permulaan yang harus ditetapkan adalah unit sampling yang dalam pengolahan data akan menjadi unit analisa. Unit sampling adalah satuan terkecil dari anggota populasi yang menjadi sumber data, sesuai dengan karakteristik populasi teoritis. Ada dua teknik sampling :

1. Probability Sampling atau sampel secara random

Teknik sampel probabilitas termasuk teknik random sebagai cara penentuan sampel yang objektif, karena memperhitungkan besarnya variasi populasi yang dapat menjadi sumber kekeliruan dalam penarikan sampel. Penentuan sampel dengan cara ini dilakukan dengan perhitungan eksak (jumlah atau ukuran sampel) untuk memperoleh elemen-elemen yang benar-benar mewakili populasi.

Menurut hukum probabilitas, “Masing-masing warga populasi mempunyai peluang dan kemungkinan yang sama untuk terpilih sebagai sampel”. Agar setiap warga populasi mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel, pengambilannya haruslah dengan teknik random atau acak. Jenis-jenis sampel probabilitas adalah :

a. Teknik Random Sederhana (simple random sampling)

Warga populasi tidak dipilah-pilah atau distrata terlebih dahulu, semua warga populasi langsung dipilih secara random, dengan kata lain semua populasi memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel. Misalnya, yang menjadi populasi adalah semua guru sosiologi di provinsi jawa tengah, katakanlah berjumlah 300 orang, peneliti langsung merandom atau mengacak populasi sebanyak 100 orang untuk dijadikan sampel penelitian. Untuk memperoleh 100 orang dari populasi tersebut dapat dilakukan dengan cara undian, cara ordinal maupun tabel  bilangan random.

Keuntungan menggunakan Teknik Random Sederhana :

a)    Setiap elemen dalam populasi mempunyai peluang yang sama dan bebas untuk dijadikan sampel.

b)   Metode ini dijadikan dasar dari semua jenis sampel acak.

c)    Metode yang paling mudah pemakaiannya, paling sederhana dan mudah dimengerti.

d)   Peneliti tidak perlu mengetahui komposisi sebenarnya dari populasi sebelumnya.

b. Teknik random atas dasar strata (stratified random smpling)

Pengambilan sampel dari Populasi dilakukan secara bertingkat atau berjenjang, strata tersebut disesuaikan dengan sifat-sifat atau ciri-ciri berdasarkan kondisi populasi. Misalnya yang menjadi populasi adalah siswa SMA dan SMK di kota Solo. Siswa tersebut ada yang berasal dari SMA atau SMK negeri maupun swasta dan ada siswa yang sedang duduk di kelas X, Kelas XI dan kelas XII. Ada siswa laki-laki dan perempuan. Bererati warga populasi akan terbagi menjadi 24 sel/strata, sel 01 terdiri dari siswa SMA negeri yang masih duduk dikelas X dan jenis kelaminnya laki-laki, sel 02 adalah siswa SMA negeri yang duduk di kelas X dan jenis kelaminnya perempuan, sel 03 adalah siswa SMA negeri yang duduk dikelas XI dengan jenis kelamin laki-laki, dan begitu seterusnya hingga sel 24. Karena ciri atau sifat populasi siswa SMA di kota Solo memiliki strata yang demikian tersebut, setiap sel dalam tabel strata harus ada wakilnya dalam sampel penelitian. Untuk itu perlu dipilih warga sampel yang mewakili masing-masing sel/strata dengan cara proporsional maupun nonproporsional.

Keuntungan Teknik random atas dasar strata secara proporsional :

a)    Dengan mengelompokkan sampel secara proporsional, kepresentatifan sampel dalam hubungannya dengan populasi semakin meningkat.

b)   Sampel yang dihasilkan pada kenyataannya lebih menggambarkan karakteristik populasi yang sebenarnya dibandingkan sampel acak sederhana.

c)    Kesalahan sampling dalam perkiraan dari suatu populasi akan berkurang dibandingkan dengan sampel acak sederhana untuk ukuran sampel yang sama.

d)   Perencanaan sampling jenis ini menghilangkan keharusan untuk mengukur unsur sampel sesuai dengan distribusi asal dalam populasi.

c. Teknik random bertahap atas dasar strata (multy stage probability stratified random sampling)

Populasinya distratakan terlebih dahulu dan pemilihan sampel dilakukan secara bertahap, startanya juga disesuaikan sifat atau ciri suatu populasi.

d. Teknik random atas dasar himpunan (Cluster random sampling)

Terlebih dahulu populasi dibagi atas dasar himpunan-himpunan dimana populasi tersebut menyebar. Dalam hubungan ini, yang dirandom adalah himpunannya, himpunan yang terpilih sebagai sampel adalah seluruh warganya. Cara merandom untuk mendapatkan himpunan yang akan menjadi sampel bisa dengan cara undian ataupun tabel bilangan random. Misalnya yang menjadi populasi adalah siswa SMA Swasta di kota Solo, ada yang duduk dikelas X, XI dan XII. Siswa masing-masing terdiri dari laki-laki dan perempuan. Random tidak dilakukan langsung pada semua murid, tetapi kelas tersebut sebagai kelompok atau cluster. Dari sejumlah kelas yang sudah dirandom, dihitung jumlah unit sampel sampai memenuhi ukuran sampel minimun yang telah ditetapkan.

2. Nonprobabilitas sampling atau sampel nonprobabilitas

Nonprobabiliti sampel mengndung arti bahwa kemungkinan terpilihnya masing-masing responden sebagai anggota sampel tidak diketahui. Kerugian dengan menggunakan sampel ini adalah kemungkinan seseorang akan terpilih sebagai anggota sampel tidak diketahui, peneliti tidak dapat menyatakan bahwa smpelnya mewakili populasi, oleh karena itu peneliti juga tidak mampu menggeneralisasikan penemuannya diluar sampel yang ditelitinya. Peneliti juga tidak mampu menkasir derajat kesalahan pengambilan sampel. Keuntungan dari nonprobabiliti sampel adalah prosedurnya tidak berbelit-belit, jauh lebih murah, dan dapat dilakukan saat-saat tertentu dimana respondennya dapat diraih tanpa prosedur statistik yang kompleks. Nonprobability sampling terdiri dari :

a. Teknik pengambilan sampel purposif (Purposial sampling)

Sampel ditetapkan secara sengaja oleh peneliti didasarkan atas kriteria atau pertimbangan tertentu berdasarkan tujuan peneliti, jadi proses penelitian tidak dilakukan seperti teknik random.

b. Teknik pengambilan sampel Aksidental (accidental sampling)

Pengambilan sampel tidak ditetapkan terlebih dahulu, peneliti langsung mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemuinya, setelah jumlah sampel diperkirakan sudah mencukupi, pengumpulan data dihentikan. Misalnya penelitian mengenai reaksi suporter sepak bola. Untuk mengetahui reaksi atas pertandingan sepak bola tersebut, peneliti dapat menanyakan kepada suporter mengenai reaksi atau perasaan yang dirasakan suporter tersebut terhadap pola permainan tim sepak bola favoritnya.

c. Teknik pengambilan sampel Quota (Quota Sampling)

Dalam sampel ini, jumlah populasi tidak diperhitungkan, akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quotum tertentu pada setiap kelompok yang seolah-olah berkedudukan masing-masing sebagai sub populasi. Misalnya penelitian mengenai harga-harga kebutuhan pokok sesuai dengan penghasilan suaminya. Dengan ibi rumah tangga sebagai unit sampling. Untuk itu keluarga dikelompokkan sebagai sub populasinya, keluarga buruh, keluarga wiraswasta, keluarga oegawai negri dan lain sebagainya.

d. Teknik Bola Salju (Snowball Sampling)

Snowball sampling adalah penarikan sampel bertahap yang makin lama jumlah respondennya semakin bertambah besar. Snowball sampling pada hakekatnya adalah cara penarikan sampel yang nonprobabilitas, cara ini dapat diubah menjadi sampel yang probabilitas asal peneliti menarik sampelnya secara acak pada setipa tahap pengambilan sampel.

e. Pengambilan sampel terhadap kasus-kasus ekstrim atau menyimpang (Extreme or deviant case sampling)

Pengambilan sampel yang menitikberatkan pada kasus-kasus (responden) yang kaya informasi karena kasus-kasus tersebut memiliki ciri-ciri yang tidak biasa atau ciri yang istimewa dalam hal-hal tertentu.

f. Pengambilan sampel variasi maksimum (Maximum Variation Sampling)

Pengambilan sampel dimaksudkan untuk dapat menangkap atau menggambarkan suatubtema sentral dari studi melalui informasi yang saling menyilang dari berbagai responden. Peneliti memilih sampel variasi maksimumbukan bermaksud untuk menggeneralisasikan penemuan-penemuannya, melainkan mencari informasi yang dapat menjelaskan adanya variasi serta pola-pola umum yang bermakna dalam variasi tersebut.

g. Pengambilan sampel homogen

Pengambilan sampel homogen dimaksudkan Untuk menggambarkan kekhususan sub kelompok (subgroup) secara mendalam.

h. Pengambilan sampel tipikal (typical case sampling)

Untuk menggambarkan sebuah program atau peserta dari program pada oarang yang belum terbiasa dengan program tersebut dapat dibantu dengan cara memberikan gambaran tentang profil kualitatif dari satu kasus atau lebih yang bersifat tipikal. Sampel tipikal bukan dimaksudkan untuk membuat generalisasi, melainkan untuk memberikan gambaran atau penejlasan kepada orang-orang yang belum paham tentang hal yang bersifat tipikal.

i. Pengambilan sampel kritis (critical case sampling)

Dimaksudkan untuk memperoleh penjelasan melalui kasus-kasus yang dianggap kritis. Kritis berarti sebagai suatu keadaan yang istimewa baik karena keunggulannya maupun karena keterbelakangannya.

j. Pengambilan sampel berkriteria (Criterion sampling)

Dasar pemikiran dari pengambilan sampel berkriteria adalah untuk meninjau kembali dan mempelajari seluruh kasus yang telah memenuhi kriteria penting yang telah ditentukan.

Kemungkinan dalam menetapkan sampel dari suatu populasi:

1. Sampel proporsional

Sampel proporsional adalah bila sampling didalam setiap sub sampel sebanding jumlah atau ukurannya dengan unit sampling didalam setiap sub populasi.

2. Area sample

Sub populasi di tetapkan berdasarkan daerah penyebaran populasi yang hendak diteliti, dan sub populasi tersebut dijadikan dasar dalam menentukan ukuran setiap sub sampel.

3. Sampel ganda (double samples)

Dilakukan dengan maksud memungkinkan data dari sampel mauk seluruhnya, untuk itu jumlah atau ukuran sampel ditetapkan dua kali lebih banyak dari sampel minimum yang telah ditetapkan.

4. Multiples samples

Sampel ini merupakan perluasan dari sampel ganda, penngambilan sampel dilakukan lebih dari dua kali lipat jumlah atau ukuran sampel yang telah ditetapkan dengan ketentuan unit sampling untuk setiap kelipatan memiliki kesamaan dengan unit sampling yang pertama.

5. Sampel sistematik

Sampel ini diambil dari populasi dengan jarak atau interval tertentu, antara lain berupa interval waktu munculnya gejala atau interval ruang berupa jarak tempat munculnya satu gejala dan lain sebagainya.batas jarak atau interval waktu atau jarak munculnya gejala itu harus tetap dan uniform untuk semua gejala yang dijadikan sebagai sampel. Untuk sampel pertama harus diambil secara random, kemudian sampel berikutnya ditetapkan menurut interval yang dipergunakan, sampai terpenuhi jumlah atau ukuran sampel yang telah ditetapkan (sampel minimum).

DAFTAR PUSTAKA

Slamet,Yulius.2006.Metode Penelitian Sosial.Surakarta: LPP UNS dan UNS PRESS

Nawawi, H. Hadari.1995.Metode Penelitian Bidang Sosial.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Black,James A. Dan Dean J. Champion.1992.Metode dan Masalah Penelitian Sosial.Bandung:Eresco

Faisal, Sanapiah.2005.Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada