Minggu, 23 Oktober 2011, HIMASOS FISIP UNS mengadakan penelitian di Semarang, tepatnya penelitian ARC (Apresiation, Reflection, dan Creation) yaitu kita hanya mengamati objek dan merefleksikan dalam bentuk tulisan. Dalam penelitian tersebut dibagi menjadi empat tempat yaitu ke Kota Lama, Gereja Bledug, Pecinan (semawis) dan daerah sekitar stasiun Tawang.

Nah, penelitian saya di pecinan (waroeng semawis “semarang untuk wisata”), pukul 14.30 kami sampai di kompleks pecinan, tepatnya di gang Warung. Ketika memasuki gang tersebut, kita disambut oleh dua gapura yang bertuliskan selamat datang dalam berbagai tulisan dan bahasa, yaitu bahasa jawa ( Sugeng Rawuh), Aksara Jawa, tulisan Cina, bahasa indonesia (selamat datang) dan bahasa Inggris (Welcome). Bentuk bangunan di kawasan tersebut memiliki ciri-ciri berlantai dua, yang mana lantai dasar digunakan untuk toko dan lantai dua digunakan untuk rumah. Bangunannya berdempet-dempet satu sama lain nyaris tanpa sela. Ketika itu suasana nampak sepi dan tidak tampak adanya tanda-tanda pasar malam. Pasalnya pasar malam tersebut buka mulai pukul 18.00-23.00, sehingga yang terlihat hanya mobil, becak dan masyarakat sekitar yang berlalu lalang. Hingga sekitar pukul 15.30 para pedagang tersebut mulai bersiap menata tenda dan warungnya. Sempat saya melihat mereka, menata warungnya dan ternyata tidak hanya orang-orang cina saja yang berjualan, banyak orang jawa yang juga berjualan di waroeng semawis (pasar malam) tersebut. Hal itu menandakan bahwa masyarakat Cina dan Jawa dikawasan tersebut hidup rukun tanpa membedakan etnis mereka.

Hujan mulai turun, cepat-cepat kami bergegas untuk kembali ke tempat awal kita berkumpul (depan stasiun tawang), tanpa sengaja kami melihat sebuah klenteng dan sebuah kapal, dan kami pun berhenti untuk mencari informasi mengenai tempat tersebut. Tetapi kondisi tidak memungkinkan kita untuk mencari info yang lebih mendetail, karena hujan semakin deras.

Klenteng Tay Kak Sie, itulah nama klentengnya yang berada di Gang Lombok, klenteng tersebut merupakan klenteng induk seluruh klenteng di Semarang (yang berjumlah 11 klenteng). Nama klenteng yang menyiratkan napas Budhisme ini menjadi simbol heroisme etnis Cina di Semarang. Selain menjadi monumen perlawanan masyarakat Cina terhadap penjajahan, klenteng ini juga menjadi simbol perlawanan masyarakat Cina terhadap ketamakan saudagar Yahudi yang dulu menguasai Klenteng Sam Poo Kong.

Tepat di depan klenteng tersebut tepatnya di kali semarang, bersandar sebuah replika kapal laksamana cheng ho yang mirip seperti kapal asli,tetapi kapal tersebut hanya repelika saja. Repelika kapal tersebut diresmikan pada tahun 2007 sekaligus sebagai perayaan peringatan kedatangan Laksamana Cheng Ho di Semarang. Bila Imlek atau event-event yang dirayakan dikawasan gang lombok tersebut, repelika tersebut biasanaya berfungsi sebagai panggung utama untuk pertunjukan.

Tetapi sayang, keadaan di sepanjang kali semarang tersebut sangat kumuh dan kotor, bau limbah pun menyengat. Terutama di daerah tempat tinggal masyarakat jawa, keadaannya sangat memprihatinkan, sangat berbanding terbalik dari kampung pecinan.