Munculnya Marxisme

Marxisme merupakan paham yang dicetuskan oleh Karl Marx dan Frederick Engels,dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bahwa / kelas buruh. Menurut analisa Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah/hasil kerjanya. Karena keterasingan manusia dari hasi kerjanya terjadi dalam jumlah besar dan global, pemecahannya harus juga bersifat kolektif dan global. Menurut Etika Marxisme, norma-norma etis yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau kelas tertentu, bukan merupakan nilai-nilai yang bedasarkan pernyataan/wahyu ilahi atau hukum-hukum yang abadi, melainkan mencerminkan dan berakar dari keadaan materiel masyarakat. Oleh karena itu, keadaan dan struktur masyarakat harus diubah (mis. dari masyarakat kelas/golongan ke masyarakat sosialis), supaya bangsa dan manusia (yang direpresentasikan oleh proletariat) dapat mengembangkan semua potensinya dan kemungkinannya – yang selama ini hanya dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan kelas atas – untuk “keselamatan” seluruh bangsa. Paham kapitalisme merupakan paham dimana masyarakat terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas borjuis dan proletar dengan pola hubungan yang ditandai dengan dominasi dan eksploitasi, terjadinya eksploitasi karena adanya integrasi antara kaum buruh yang tidak bermodal dengan proses produksi yang berdasarkan sistem kontrak. Kaum borjuis memberikan peraturan bekerja yang jika di rata-rata sekitar 12-14 jam memproduksi barang dan secara berulang-ulang, padahal seharusnya fungsi manusia saat itu sudah tergantikan dengan kemunculan mesin-mesin produksi, tetapi para buruh ini terus menerus dipaksa untuk memproduksi barang hingga terjadi kelebihan produksi, hal yang menjadi sorotan Marx adalah dimana kaum borjuis melakukan eksploitasi bukan hanya melalui peraturan kerja, lebih dari itu kaum borjuis mengambil keuntungan dari ongkos  jam kerja yang tidak diberikan kepada kaum buruh yang disebut nilai lebih ( surplus value ). Nilai lebih adalah bentuk moneter dari bagian produksi pekerja yang dia serahkan kapada pemiliki alat produksi tanpa menerima apapun sebagi gantinya, sehingga dalam masyarakat kapitalis tingkat produktivitas kerja membuat biaya hidup pekerja selalu kurang dari kuantitas nilai baru yang diciptakan. Hal ini berarti bahwa seorang pekerja harus bekerja lebih dari jam kerjanya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, karena nilai lebih yang ia peroleh lari ke pemilik modal.

Munculnya marxisme berkaitan erat dengan keberadaan kapitalisme, dalam buku Communist Manifesto marx menjelaskan bahwa kekerasan adalah satu-satunya jalan untuk melakukan transformasi sosial yang mendasar. Hal itu dilakukan disaat teknologi produksi yang merupakan dampak dari kapitalisme melampaui lembaga sosial, ekonomi, politik, keadaan ini menyebabkan kaum borjuis abad kapitalis merasa tidak rela posisi mereka tergeser oleh kaum proletar, sedangkan dari kaum proletar sendiri mulai mengadakan pemberontakan atas ketidakadilan yang mereka alami selama abad kapitalis.

Pandangan Marxisme

Marx tidak memiliki pandangan yang jelas mengenai cara terjadinya transformasi politik dari kapitalisme ke komunisme. Pada tahun 1872 Marx di suatu pertemuan pernah mengakui bahwa kelas buruh dapat melakukan berbagai jalan untuk mencapai kekuasaan.

Ketegaran kaum komunis dalam melakukan perubahan sosial melalui revolusi sebenarnya telah melanggar suatu hal yang penting dalam doktrin marx. Menurut Marx kondisi keberadaan manusia menentukan kesadarnnya, dank arena itu perubahan sosial tidak semata-mata hasil kemauan dan pilihan yang bebas. Jika kondisi masyarakat mengizinkan peralihan yang damai dari pemilikan alat0-alat produksi secara perorangan menjadi milik Negara, penggunaan kekerasan dalam pengertian Marx sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Marx sendiri.

Konsep komunis dan kediktatoran universal sejalan dengan teori Marx tentang kesadaran hanya di dalam masyarakat dimana kondisi-kondisi kehidupan sosial politiknya telah menciptakan kesangsian umum mengenai kemungkinan terjadinya perubahan secara damai. Konsep itu tidak berlaku di Negara-negara yang kesadarannya tentang demokrasi tidak muncul dari teks konstitusi melainkan dari kondisi keberadaannya. Dengan berpegang teguh pada pendirian bahwa revolusi dan kediktatoran universal sebagai satu-satunya jalan menuju perubahan, kaum komunis sesungguhnya memproklamasikan doktrin yang bukan Marxis lagi. Doktrin ini mengandung pengertian bahwa terlepas dari kondisi historis, politik, ekonomi, sosial dan budaya kesadaran yang tunggal dan seragam, yang meruapakn kredo kaum-kaum komunis dapat dipaksakan dimana saja hanya dengan kekerasan.

Alienasi dan Humanisme

Dalam usaha menemukan dasar kemanusiaan dari komunisme Marx para penulis liberal dinegara komunis maupun komunis memusatkan perhatian kepada konsep alienasi Marx dimana dalam Manuscripts Marx mengatakan bahwa dibawah kapitalisme manusia dialienasikan dari pekerjaan, barang yang di hasilkannya, majikan, rekan sekerja dan mereka sendiri. Menurut marx oara buruh tidak bekerja untuk mengaktualisasikan dirinya serta potensi kretifnya tetapi atas dasar paksaan. Pekerjaannya tidak memuaskan kebutuhannya tapi semata-mata merupakan alat memuaskan kebutuhan oranglain yaitu majikan kapitalis yang memperalat kaum buruh untuk memperoleh keuntungan.

Fase keprihatinan Marx yang humanis dan etis tidak berlangsung lama, hal itu dipengaruhi semakin akrabnya beliau dengan kehidupan dan perjuangan kelas buruh. Marx menanggalkan unsure-unsur kemanusiaan dan etis dari konsepsinya tentang komunisme. Dalam buku The German Ideology, yang ditulis Frederich Engels (1846) Marx menyerang kaum sosialis yang etis karena mereka berbicara tenatang hakekat kemanusiaan dari manusia pada umumnya, dan bukannya berbicara tentang manusia sebagai kaum buruh. Kecenderungan individualistic dalam manuscripts secra pasti diganti tentang konsep kelas, hasrat cinta, dan persahabatan digantikan dengan hasrat perjuangan kelas.

Keruntuhan Marxisme

Dalam buku Ronald Aroson (1995) After Marxism, banyak bercerita tentang kegagalan teori marxisme. Ronald menjelaskan bahwa marxisme telah berakhir karena proyek Marxian berupa tranportasi dari kapitalisme menuju sosialisme. Ditengah-tengah realita semacam itu , Ronald berpendapat bahwa berbagai perubahan pasti membawa kita pada kesimpulan bahwa aspek-aspek krusial teori Marxian telah usang karena, pertama, Kelas pekerja tidak semakin terpuruk. Kedua, Struktur kelas tidak semakin tersederhanakan menjadi dua kelas yang mengalami polarisasi sehingga kelas yang seharusnya terpisah dengan fungsi  masing-masing justru ada kelas yang mengeleweng dan memangsa kelas lain. Ketiga, Karena perubahan proses manufaktur jumlah pekerja industri mengalami penurunan, kelas pekerja semakin terfragmentasi, dan kesadaran mereka atas situasi yang mereka hadapi. Keempat, Tenggelamnya kelas pekerja mengarah pada kemerosotan kekuatannya, kesadaran kelasnya dan kemampuannya melakukan perjuangan kelas. Kelima, Pekerja cenderung tidak menganggap dirinya sebagai pekerja, mereka memiliki beragam identitas yang saling bersaing dan dengan demikian menjadi pekerja kini hanyalah salah satu dari sekian banyak identitas

Ronald mengawali salah satu bab dalam bukunya dengan pernyataan provokatif sebagai berikut: “Feminisme menghancurkan Marxisme”. Dengan cepat ia menjelaskan bahwa feminisme tidak melakukannya sendiri. Namun, feminisme memang memberikan banyak sumbangsih bagi hancurnya marxisme dengan menghendaki sebuah teori yang memusatkan perhatiannya pada “penindasan perempuan sebagai perempuan”. Fokus ini jelas menggerogoti teori Marxian, yang ingin menawarkan teori yang dapat diterapkan pada seluruh umat manusia. Feminisme juga meletakkan dasar bagi perkembangan kelompok lain yang menghendaki agar teori-teori tersebut memusatkan perhatiannya pada kondisi lain yang tidak menguntungkan ketimbang pada masalah universal kemanusiaan.

DAFTAR PUSTAKA

Mandel, Ernest.2006.Tesis-Tesis Pokok Marxisme.Yogyakarta:Resist Book

Prabowo, Hary.2002.PERSPEKTIF MARXISME Tan Malaka : Teori dan Praxis Menuju Republik.Yogyakarta:Jendela

Ebenstein,William and Edwin Fogelman.1994. Isme-isme Dewasa ini. Jakarta:Erlangga

Ritzer,George and Douglas J. Goodman.2011.Teori Sosiologi.Yogyakarta:Kreasi Wacana Offset.