Tujuan penulisan buku ini adalah suatu usaha untuk menjelaskan bagaimana kebudayaan Jawa dapat bertahan di tengah-tengah gelombang-gelombaang kebudayaan yang datang dari luar.  Kebudayaan Jawa menemukan dirinya dan berkembang kekhasannya dalam pencernaan masukan-masukan kultural dari luar.

Pandangan filosofis Jawa percaya bahwa hanya ada satu substansi di dalam alam semesta  dan segala sesuatu adalah emanasi darinya.  Oleh sebab itu, bagi orang Jawa realitas adalah satu kesatuan yang menyeluruh dimana Yang Numinus meresapi alam lahir sehingga alam lahir merupakan ungkapan alam gaib. Alam gaib sendiri, bagi orang Jawa, adalah alam roh-roh halus; misteri berkuasa yang dapat mengendalikan kekuatan alam, yang mengelilingi manusia Jawa, darimana ia memberi eksistensinya dan ia bergantung. Roh-roh halus ini adalah oknum-oknum yang tidak dapat diperhitungkan.  Ia dapat menjadi oknum yang baik dan kemudian menjadi pemberi berkat.  Tetapai sebaliknya, ia juga dapat menjadi oknum yang jahat, yang dapat mendatangkan kutuk.  Karena oknum ini tidak dapat diperhitungkan maka manusia Jawa harus berusaha agar ia tidak bertabrakan dengan roh-roh itu.  Sebaliknya, ia harus berada dalam keselarasan dengan roh-roh itu. Keselarasan ini diusahakan dengan  mengadakan koordinasi yang dipelajari dari pengalaman.  Pengalaman-pengelaman tersebut terungkap didalam tradisi dan kelakuan norma masing-masing desa di Jawa.  Siapa yang berpegang padanya boleh merasa aman terhadap kekuatan-kekuatan kosmis, suatu konflik dengan roh-roh tidak perlu ditakuti lagi. Cara lain untuk mempertahankan keselarasan adalah dengan membaca mantra. Selain itu, manusia Jawa juga percaya bahwa ia dapat memanipulasi kekutan-kekuatan alam gaib itu dan dengan demikian dapat mencapai kekuatan di atas alam dan manusia.  Hal ini disebut dengan mencari kesaktian.

Karena alam kosmis adalah alam yang kasat mata namun diungkapkan dalam alam, maka orang Jawa berusaha untuk hidup selaras dengan alam.  Dan karena masyarakat juga adalah ungkapan alam gaib, maka orang Jawa juga berusaha untuk hidup selaras dengan masyarakat.

Di dalam masyarakat, orang Jawa belajar untuk berhubungan dengan alam.

Karena masyarakat adalah tempat untuk belajar hidup selaras dengan alam, maka orang Jawa harus juga belajar untuk hidup selaras dalam masyarakat.  Semuanya itu diatur dengan apa yang disebut dengan adat istiadat.

Seorang Jawa yang baik adalah seseorang yang dapat menguasai dirinya dan berada dalam kondisi stabil, dimana ia mampu untuk hidup selaras dengan dirinya sendiri, masyarakatnya, alam dan pada puncaknya, dengan alam gaib. Puncak pemikiran filosofis orang Jawa adalah kesadaran tentang adanya kuasa yang meresapi alam semesta, yang menentukan keselamatan, bahkan segala sesuatu dalam hidup manusia.  Kuasa ini adalah kuasa numinus yang disebut Takdir.  Orang Jawa percaya bahwa segala sesuatu ditentukan oleh “Yang Di Atas”, bahkan sampai yang sekecil-kecilnya.  Oleh sebab itu, adalah sia-sia bagi seseorang untuk mengubah segala sesuatu yang telah ditakdirkan.  Oleh karenanya, dari masyarakat Jawa dituntut kesediaannya untuk menjalani takdirnya dengan sikap aktif mengisi dan memenuhi tanggung jawabnya masing-masing, dengan tanpa berusaha untuk mengubah apapun.

Seorang Jawa harus dapat menguasai dirinya dari hawa nafsu dan menjauhi sikap egoisme.  Nafsu adalah perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia dan membelenggunya secara buta pada dunia lahir. Sedangkan dengan keegoisan atau sikap penuh pamrih, orang Jawa harus berusaha untuk menghindarinya, karena sikap ini hanya berusaha untuk mengusahakan kepentingan individualnya sendiri saja dengan tidak menghiraukan kepentingan-kepentingan masyarakat.

Pamrih terutama terlihat pada tiga nafsu, yaitu selalu ingin menjadi orang yang pertama, menganggap diri selalu betul dan hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri. Untuk mengatasi hal ini, orang Jawa harus mengembangkan sikap sepi ing pamrih.  Ciri-ciri khas sikap itu adalah kombinasi antara kemantapan hati yang tenang, kebebasan adri kekhawatiran tentang dirinya sendiri dan kerelaan untuk membatasi diri dalam peran dunia yang ditentukan. Sikap batin yang tepat ini selalu dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa kita bergantung dari Yang Ilahi.  Orang itu hendaknya ingat pada Allah dan sesuai dengan itu bersikap mawas diri.  Orang hendaknya mempercayakan diri pada bimbingan Yang Ilahi dan percaya kepada-Nya.

Dua kaidah dasar kehidupan masyarakat jawa: prinsip kerukunan, Rukun adalah keadaan ideal yang diharapkan dapat dipertahankan dalam semua hubungan sosial, dalam keluarga, dalam rukun tetangga, di desa, dalam setiap pengelompokkan tetap.  Suasana seluruh masyarakat seharusnya bernafaskan semangat kerukunan. Kata rukun juga mengacu pada cara bertindak.  Berlaku rukun berarti menghilangkan tanda-tanda ketegangan masyarakat atau antara pribadi dengan pribadi sehingga hubungan-hubungan sosial tetap selaras dan baik-baik.  Rukun mengandung usaha terus menerus pada individu untuk bersikap tenang satu sama lain dan untuk menyingkirkan unsur-unsur yang mungkin menimbulkan perselisihan dan keresahan.

Kaidah kedua yang mengambil peranan  dalam mengatur pola interaksi masyarakat adalah prinsip hormat.  Prinsip ini mengatakan bahwa setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri harus selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Prinsip hormat berdasarkan pada pendapat, bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkhis, bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya. Pandangan itu sendiri berdasarkan cita-cita tentang suatu masyarakat yang teratur baik, dimana setiap orang mengenal tempat dan tugasnya dan dengan demikian ikut menjaga agar seluruh masyarakat merupakan suatu kesatuan yang selaras.

Dengan demikian, kesadaran akan kedudukan sosial masing-masing meresap di dalam kehidupan orang Jawa.  Oleh sebab itu, kemudian timbullah suatu gaya hidup wedi, isin dan sungkan dalam masyarakat Jawa.  Wedi berarti takut pada ancaman fisik atau rasa takut pada akibat kurang enak dari satu tindakan. Isin berarti malu, juga dalam arti malu-malu, merasa bersalah, dan sebagainya.  Belajar untuk merasa malu adalah langkah pertama ke arah kepribadian Jawa yang matang.Sungkan adalah rasa hormat yang sopan terhadap atasan atau sesama yang belum dikenal, sebagai pengekangan halus terhadap kepribadian sendiri demi hormat terhadap orang lain. Inilah gaya hidup orang Jawa yang nyata dalam masyarakat Jawa.

Daftar Pustaka

Suseno, Magnis.2003.ETIKA JAWA Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Gramedia Pustaka Utama:Jakarta