Di zaman sekarang ini televise merupakan kebutuhan yang utama untuk mendapatkan informasi dari dunia luar maupun hanya sekedar hiburan. Televise hadir ditengah ruangan ditonton dengan mata tak berkedip, sesekali penonton tertawa berderai, ikut bersedih, merasa iba atau bahkan menunjukkan sikap dan perilaku mengkritik, memojokkan, smpai mengkambinghitamkan terhadap acara yang disuguhkan. Namun, dari semua itu berujung pada satu persoalan pokok, yaitu kebutuhan akan adanya televisi. Inilah realitas televisi. Aspek penting mengapa televise dibutuhkan masyarakat adalah karena televise mampu menyuguhkan esensi hiburan kepada masyarakat. Sangat janggal bila televise tidak menyertakan aspek hiburan dalam kemunculannya. Sehubungan dengan aspek hiburan yang ada dalam televise, William Stepenson pernah mengatakan bahwa kodrat televise adalah menghibur. Atau Neil Postman mengatakan televise menghibur diri sampai mati. Realitas yang sudah menggejala, dikhawatirkan akan memunculkan ketergantungan yang begitu besar masyarakat pada televise. Ketergantungan yang besar akan menyebabkan televisi menjadi acuan, penuntun, nasihat bagi masyarakat. Kemudian televisilah yang mengarahkan hidup masayarakat.

Selama ini kritikan protes kepada televisi biasanya terletak pada etika iklan dan adegan kekerasan yang ditayangkan. Kasus tawuran antar pelajar yang brital, mendudukkan televise sebagai media yang tak luput dari kecaman, kritikan bahkan makian. Tanpa dibuktikan secara empiris, masyarakat telah menjatuhkan “vonis mati” untuk televisi. Televise diklaim sebagai penyebab timbulnya tindak kejahatan. Sebab, televise sendiri memang bertujuan untuk menawarkan produk penjualan. Dan produk penjualan tersebut dianggap mengena bila yang memperhatikan dan menontonnya mampu berbuat seperti yang disajikan lewat televise atau mempunyai kecenderungan kearah situ. Televise juga seolah ingin menginformasikan dan mengajak masyarakaat untuk terlibat aktif didalamnya. Seolah televise ingin mengajak masyarakat agar mereka tak meniru jalan yang ditempuh penjahat, tetapi meniru perbuatan baik pemeran utama. Kalau kemudian terjadi dampak yang tidak baik dan masyarakatpun memojokkan televise adalah tidak salah dan juga tidak seratus persen benar. Masyarakat Indonesia sampai sekarang ini, belum bisa menerapkan budaya membaca yang tinggi, keadaan masyarakat masih terpola dengan budaya hiburan. Akibatnya segala sesuatu yang berbau hiburan selalu disukai masyarakat. Mereka cenderung lebih memilih melihat dan menonton dari pada membaca.

Memetakan realitas pendidikan dan output yang dihasilkan, tanpa menyangkutjkan kehadiran TV bisa jadi mendangkalkan masalah dan membutakan diri pada fakta. Tanpa disadari, tv telah turut menentukan orientasi pendidikan dan televisipun telah menjadi guru informal anak didik dalam realitas sehari-hari. Mereka menyesuaikan perilakunya terhadap apa yang yang telah disuguhkan tv. Dalam sosialisasi pendidikan tv mengandung dua persoalan pokok, yaitu sebagai fungsi transmitter (penyampai) ilmu pengetahuan dan sebagai translator (penerjemah). Keunggulan tv sebagai transmitter dapat diamati dari segala sesuatu yang belum diketahui masyarakat, bisa langsung diketahui masyarakat, missalnya ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh masyarakat akan mudah diketahui oleh masyarakat setelah disiarkan lewat televise. Anak-anak akan mengikuti perilaku tokoh lewat film-film yang mereka tonton, remajanya mengikuti mode dan perilaku ABG, orang tua pun hanyut oleh perilaku dalam sinetron dan sebagainya. Televise merupakan sarana empuk untuk transmitter ilmu pengetahuan. Fakta riil menunjukkan bahwa Tv sangat menentukan perilaku masyarakat. Apa yang disajikan tv cenderung diikuti pemirsa, tak terkecuali dengan model atau realitas pendidikan ditanah air.

Tentunya kita memang tak boleh menutup mata bahwa tv turut membentuk pola pikir yang lebih maju bagi masyarakatnya. Misalnya, pola pikir yang dahulunya statis dengan dinamika yang lamban, dengan kehadiran tv jadi lebih dinamis. Masyarakat akan lebih mempunyai alternative pilihan dengan keluasan cakrawala lewat televise. Masyarakat juga cenderung menuntut berpikir maju terhadap diri dan pemerintahnya yang diilhami oleh Negara-negara maju.

Sehubungan dengan anak didik yang masih kanak-kanak, kehadiran tv telah membentuk pola pembelajaran satu arah. Ini berarti bahwa anak hanya melihat dengan tanpa mampu mengorek secara proporsional system nilai dan aplikasi yang ada. Ia hanya belajar satu arah dengan tv. Kenyataan ini akan membuka peluang system belajar pasif  dan satu arah. Anak cenderung mendengarkan apa yang disuguhka dan dilihatnya lewat televise, akibatnya anak sulit dilatih untuk berpikir kritis terhadap apa yang diajarkan oleh guru. Padahal sang guru sendiri, tak kalah statisnya dengan menerangkan apa adanya tanpa melihat kenyataan yang dihadapi anak-anaknya. Anak-anak hanya berupaya menerima. Bahkan realitas yang ada, kalau ada murid yang menanyakan hal yang aneh-aneh justru guru cenderung memarahinya. Ia kurang memahami bahwa tingkah laku anak harus dipandang sebagai langkah positif terhadap dinamika perkembangan anak. Akibat itu semua anak akan menangkap lebih mudah apa yang disajikan tv. Yang berarti pula semakin mengukuhkan pola belajar satu arah. Disamping itu juga ia bisa memperoleh hiburan sekaligus. Fungsi hafalan yang diberikan guru jadi melemah, karena anak tidak terbiasa dilatih belajar keras. Bukankah dalam melihat tv cukup mudah, dihidupkan, kalu bosan dimatikan.

Fenomena generasi instan juga bisa diamati ketika mereka sering melihat film. Proses keterpengaruhan tersebut membuat anak berlaku malas. Mereka tak terbiasa berpikir keras. Kalau ada ulangan baru mereka belajar.  Mengubah system pendidikan  memang  tak mudah, membubarkan tv juga bukan pilihan yang bijak. Salah satu usaha yang lazim dilakukan adalah bagaimana memformat acara tv yang mampu melatih anak agar berpikir kreatif. Acara kuis anak-anak di tv sendiri dalam beberapa hal bisa melatih anak berpikir kreatif daripada kehadiran film anak-anak. Dissamping itu, factor orang tua itu sendiri. Orang tua perlu terus menanamkan daya kreatif anak dalam belajar. Orang tua tak perlu melarang anaknya menonton tv. Yang justru perlu mendaptkan perhatian serius adalah bagaimana orang tua memilihkan acara yang dapat merangsang anak berpikir kreatif. Yang jelas dan pasti factor keterpengaruhan tv terhadap realitas pendidikan bukan hanya tugas pengelola tv maupun orang tua, namun siapa saja yang masih membutuhkan pendidikan dan ilmu sebagai proses pembelajaran.

Masyarakat kita memilikin pola pikir, rasa dan penilaian berdasarkan apa yang pernah mereka lihat ditelevisi. Dalam menilai komunitas dirinyapun, tv dijadikan referensi utama. Artinya, apa yang sesuai dengan televise dianggapnya baik dan apa yang tidak sesuai dengan tv dianggapnya tidak baik. Karena masyarakat kita sudah banyak belajar dari tv. Segala kebutuhan sehari-hari,gengsi diri dan tingkah laku sudah disesuaikan dengan apa yang terjadi di tv. Akibat kenyataan yang, berlarut-larut seperti itu dapat mengakibatkan timbulnya “agama baru” dalam masyarakat. Mengapa demikian? Agama merupakan dasar pihakan kuat manusia yang berhubungan Allah atau sesame manusia. agama juga merupakan tempat bergantung manusia agar tidak terombang-ambing. Melalui agama, manusia diarahkan, dituntut bahkan diharuskan untuk melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu yang lain. Intinya sumber referensi utama manusia adalah agama.

Mungkin manusia tak merasa bahwa mereka telah menjadikan televise sebagai  “agama baru”. Baginya bisa saja agamanya tetap islam. Namun tingkah laku sehari-hari atau ketergantungan pada tv sama seperti oaring beragama atau bahkan mengalahkan agama. Televise referensi utama dalam bertingkah laku seperti halnya agama. Disamping itu “agama baru” (televisi) juga akan menurunkan daya kritis nilai-nilai rihani. Sebab yang menjadi acuannya saat ini lebih banyak berhubungan dengan atribut fisik. Mulai dari makan, make up, buku, mobil, rumah dan sebagainya. Padahal aagama sendiri banyak menekankan nilai-nilai rohani. Tak heran bila suatu saat masyarakat akan mengalami krisi rohani, seperti sifat kejujuran, kesopanan, moralitas dan kepribadian. Maka tak heran bila saat ini banyak timbul praktik korupsi dan kolusi yang berkepanjangan.

Membunuh agama baru yang sudah berkembang pesat seperti itu memang tak bisa sekaligus, namun membiarkan dan melunturkan nilai-nilai religius adalah tindakan yang kurang bijaksana. Keterpengaruhan tak bisa dihilangkan begitu saja, karena sudah sangat jauh kehidupan kita digantungkan pada televisi. Apabila prosentase ketergantungan lebih besar maka akan dimungkinkan pola tingkah laku yang ada akan disesuaikan dengan budaya yang ada di televise. Walaupun sebenarnya sangat bertentangan dengan budaya yang kita miliki. Mereka hanya sekedar meniru tanpa memikirkan akibat dari apa yang mereka ikuti.