Struktur social merupakan bangunan abstrak suatu masyarakat yang berisi susunan kedudukan dan peran individu-individu dalam masyarakat dalam dimensi vertical maupun dimensi horizontal. Struktur yang abstrak akan menjadi landasan dalam proses sosial masyarakat tersebut. Artinya, proses social yang terjadi dan cepat lambatnya proses itu sangat dipengaruhi oleh bentuk struktur sosialnya.

Di daerah tempat tinggal saya, yaitu desa Tambas Rt 04/07 Kismoyoso Ngemplak Boyolali. Terdapat sebuah organisasi karang taruna yang bernama PSTG (Persatuan Sinoman Tegal Rejo). Dalam organisasi tersebut bentuk struktur sosialnya cenderung terbuka. Desa Tambas termasuk masyarakat madya yaitu dengan cirri sebagai berikut ikatan keluarga masih kuat, tetapi hubungan antara masyarakat setempat sudah mengendur, adat istiadat masih dihormati tetapi  sudah mulai terbuka dengan pengaruh luar, pola pikir mereka sudah rasional dan akan percaya kepada hal-hal ghaib apabila mereka kehabisan akal untuk menanggulangi suatu masalah, dan kegiatan gotong royong masih ada walaupun hanya dikalangan tetangga dan kerabat dekat.

Dengan tumbuh di lingkungan yang sudah mulai terbuka dengan pengaruh luar, para anggota karang tarunanya pun juga sudah mulai terbuka dengan kebudayaan dari luar daerah, terlebih daerah ini termasuk daerah penglaju. Banyak warga yang bekerja dikota solo atau merantau ke daerah lain. Maka semakin banyak kesempatan untuk menerima budaya dari luar. Dan pada hakekatnya struktur sosial berpengaruh terhadap tingkah laku manusia dan perubahan tingkah laku dalam menjawab rangsangan dari luar. Pola pikir dan tingkah laku mereka sudah mulai berubah, mereka sudah mengenal teknologi tetapi banyak juga yang belum bisa memanfaatkannya. Sebagai contoh mereka sudah mengetahui apa itu internet, tetapi banyak dari mereka yang belum tahu kegunaan dari internet itu.

Dengan sikap terbuka yang ada dalam diri pribadi anggota, maka nilai-nilai dan norma-norma akan tercipta dengan sendirinya. Tak jarang bila terjadi deviasi atau penyimpangan yang dilakukan oleh para anggota organisasi tersebut. Sebagai contohnya apabila ada tetangga yang mempunyai hajatan dan ada hiburannya seperti dangdut atau campursari, mereka mabuk-mabukan padahal norma yang berlaku dalam masyarakat mengenai hal tersebut merupakan penyimpangan social yang seharusnya tidak dilakukan. Horton & Hunt menyatakan bahwa tidak ada suatu masayarakat yang benar-benar secara sukses dapat mempraktekkan atau mengkolaborasikan norma-norma social di dalam perilaku mereka. Walaupun bentuk struktur social mereka terbuka dan sudah mengetahui nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, mereka tetap melanggar aturan-aturan yang ada demi memperoleh kepuasan yang bersifat sementara.

Nilai-nilai social muncul berdasarkan penilaian relative kepada yang baik ataupun yang buruk dari masing-masing individu. Dan nilai-nilai tersebut mengandung standart normative untuk perilaku, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam hubungan kelompok social. Sedangkan norma merupakan pedoman atau patokan perilaku yang sebanarnya bersumber dari nilai-nilai, sehingga norma merupakan wujud konkrit dari nilai-nilai yang berbentuk aturan-aturan atau larangan. Dalam organisasi karang taruna pun juga terdapat nilai dan norma dan tanpa disadari mereka mematuhi nilai dan norma tersebut. Misalkan apabila ada yang sedang berbicara, mereka mendengarkan dan memperhatikan atau ketika ada yang sedang memberi usulan mereka menghargai usulan yang disampaikan oleh oang lain.

Struktur organisasi karang taruna tersebut terdiri dari Pembina pemuda dan pemudi karang taruna, ketua, sekretaris, bendahara dan seksi-seksi yang lainnya. Status yang mereka sandang masing-masing mempunyai peran yang berbeda-beda pula. Pembina atau pengawas tersebut bertugas memberi nasihat-nasihat agar karang taruna itu berjalan lancar. Ketua karang taruna bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam organisasi tersebut, sekretaris mencatat semua yang terjadi dalam keberlangsungan organisasi dan lain sebagainya. Dengan status ataupun kedudukan, mereka melaksanakan peran sebagaimana mestinya, itu merupakan kewajiban. Sebagai contoh, dalam organisasi karang taruna itu ketua memberi kelonggaran kepada para anggotanya untuk memberi masukan atau usulan agar organisasi  itu bisa maju dan berkembang. Usulan yang ada di musyawarahkan bersama agar tercapai mufakat. Keterbukaan tersebut merupakan hasil dari system yang sudah terstruktur dan di kelola dengan baik.

Individu di dalam masyarakat yang memainkan bermacam-macam peranan social, dikenai oleh seperangkat harapan pada masing-masing peranan tersebut dan kemungkinan besar harapan-harapan tersebut tidak serasi satu sama lain atau bahkan bertentangan. Misalnya didalam oraganisasi karang taruna, Anto sebagai ketua karang taruna sedangkan dalam pekerjaannya, Anto sebagai pegawai. Kebetulan diwaktu yang bersamaan organisasi dan tempat ia bekerja mengadakan suatu acara yang keduanya harus dihadiri. Dalam kondisi demikian ini terdapt ketidak serasian peranan dan bahkan bertentangan. Kondisi tersebut dinamakan Konflik peranan. Dalam suatu masyarakat pasti akan terjadi pertentangan peran yang sulit dihindari, dalam hal ini menggambarkan keadaan individu yang dihadapkan pada harapan-harapan yang berlawanan dengan peran yang dimilikinya.

Dengan tumbuh di lingkungan yang sudah mulai terbuka dengan pengaruh luar, para anggota karang taruna tersebut juga sudah mulai terbuka dengan kebudayaan dari luar daerah yang berarti bahwa bentuk struktur social dalam organisasi tersebut terbuka. Dan dalam penerapan nilai dan norma belum maksimal. Horton & Hunt menyatakan bahwa tidak ada suatu masayarakat yang benar-benar secara sukses dapat mempraktekkan atau mengkolaborasikan norma-norma social di dalam perilaku mereka. Dalam suatu organisasi pasti terdapat suatu konflik peran, contohnya ketika ada acara karang taruna pasti ada salah satu anggota yang tidak dapat mengikuti acara tersebut dikarenakan konflik peran yang dimiliki oleh anggota tersebut. Dan perilaku anggota karang taruna sesuai dengan bentuk struktur social yang terbuka.

Daftar Pustaka

B. Taneko,Soleman.1990.Struktur dan Proses Sosial.Jakarta:Rajawali

Priyono,Titi.2007.Sosiologi 2 SMA/MA Kelas XI.Jakarta:Yudhistira