Anthropology merupakan istilah yang sangat tua, yang berasal dari Yunani, Anthropos berarti “manusia” sedangkan Logos berarti “ilmu” secara  harfiah, Anthropology berarti “Ilmu tentang manusia.” Dahulu istilah Anthropology digunakan dalam arti lain, yaitu “ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia.” Pengertian tersebut terlepas dari ilmu filsafat dan teologi tentang manusia.

Dalam sejarah perkembangan antropologi, tepatnya pada fase ketiga, antropologi menjadi suatu ilmu yang mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa untuk kepentingan pemerintah colonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks. Sejak fase ketiga tersebut, istilah antropologi mulai dipakai di Inggris dan Amerika yang mempunyai arti sama dengan ethnology dan di Amerika istilah anthropology dipakai dalam arti yang luas karena meliputi baik bagian fisik maupun social dari ilmu tentang manusia. Sedangkan di Eropa Barat dan Tengah istilah Anthropology dipakai dalam arti khusus, yaitu ilmu tentang ras-ras manusia yang dipandang dari ciri-ciri fisiknya.

“Antropologi juga berarti suatu studi tentang manusia dengan pekerjaannya. (Anthropology is the study of man and his works).” (Fairchild,1964:12). Dalam pekerjaan manusia tersebut segala hasil pemikirannya atau hasil akal budinya. Atau secara singkat antropologi dirangkumkan kedalam istilah kebudayaan.

Sedangkan secara luas, “kebudayaan adalah keseluruhan dari kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkannya dengan belajar dan yang semuanya tersusun kedalam kehidupan masyarakat.” (Koentjaraningrat,1969:75)  Secara singkatnya Obyek studi Antropologi adalah aspek budaya atau karya cipta manusia.

Pengetahuan antropologi mengajarkan tentang psikologi, sosiologi, teologi, dan sumber-sumber pengetahuan lainnya yang kurang lebih sistematik mengenai kondisi manusia. Sebagian Antropolog masa kini juga beranggapan bahwa antropologi mencakup ciri-ciri ilmu fisika, social dan humanitas sekaligus.

Antropologi juga disebut suatu “perspektif Ilmiah”. Kualifikasi tersebut diperlukan karena sukar mencapai kesepakatan dikalangan Antropolog apakah antropologi itu ilmu pengetahuan (science) atau bukan. “Antropologi dipandang ilmiah karena kajian ini meliputi kegiatam akumulasi pengetahuan yang sistematik dan dapat dipercaya mengenai suatu aspek universal yang dilaksanakan melalui pengamatan empiris dan di intepretasi dalam konteks antar hubungan konsep-konsep yang lebih disukai bagi pengamatan empiris.” (Pelto & pelto,1989:24).

Jadi Antropologi merupakan studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya. Jadi antropologi merupakan ilmu yang berusaha mencapai pengertian atau pemahaman tentang manusia dengan mempelajari aneka warna, bentuk, fisik, masyarakat dan kebudayaannya. (Haviland,1999:7)

Daftar Pustaka

M. Keesing, Roger.1989.Antropologi Budaya.Jakarta:Erlangga

Koentjaraningrat.1990.Pengantar ilmu Antropologi.Jakarta: Rineka Citra

Saifuddin,Achmad Fedyani.2006.Antropologi Kontemporer.Jakarta: Kencana

Sumaatmadja,Nursid.1981.Pengantar Studi Sosial.Bandung:Alumni

Supardan,Dadang.2008.Pengantar Ilmu Sosial.Jakarta:Bumi Aksara