1. Pengantar
Perilaku politik berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. Yang melakukan kegiatan adalah pemerintah dan dan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu fungsi-fungsi pemerintahan yang dipegang oleh pemerintah dan fungsi-fungsi politik yang dipegang oleh masyarakat. Mengenai siapa yang melakukan kegiatan politik, ada dua pandangan yang membahas hal tersebut yaitu pendekatan kelembagaan beranggapan bahwa lembaga (struktur) yang melakukan kegiatan politik sedangkan individu sebagai pelaksana. Dan pendekatan behavioralisme menyatakan bahwa individu yang melakukan kegiatan olitik sedangkan perilaku lembaga politik merupakan perilaku individu yang berpola tertentu.

2. Model Perilaku Politik
Dalam mengkaji perilaku politik ada tiga analisis yaitu:
a. Individu actor politik meliputi actor politik (pemimpin), aktivis politik, dan individu warga Negara biasa. Factor yang mempengaruhi perilaku politik seorang actor politik adalah pertama, lingkungan social politik tak langsung (system politik, system ekonomi, system budaya dan media massa). Kedua, lingkungan politik langsung yang mempengaruhi dan membentuk kepribadian actor (keluarga, agama, sekolah, dan kelompok pergaulan). Ketiga, struktur kepribadian yang tercermin dalam sikap individu. Keempat, factor lingkungan social politik langsung yang berupa situasi, yaitu keadaan yang mempengaruhi actor secara langsung (cuaca, keadaan keluarga, suasana kelompok, dan lain-lain).
b. Agregasi politik adalah individu aktor politik secara kolektif (kelompok kepentingan, birokrasi, parpol,lembaga pemerintahan dan bangsa).
c. Tipologi kepribadian politik ialah tipe-tipe kepribadian pemimpin otoriter, machiavelist, dan demokrat.

3. Pemimpin Politik
Kepemimpinan menjadi bagian dari kekuasaan, tetapi tidak sebaliknya. Kepemimpinan merupakan suatu hubungan antara pihak yang memiliki pengaruh dan orang yang dipengaruhi dan kemampuuan menggunakan sumber pengaruh secara efektif seta kepemimpinan lebih menekankan pada kemampuan menggunakan persuasi untuk mempengaruhi pengikut. Kepemimpinan juga berbeda dengan elit politik, menurut Pareto, elit adalah orang-orang yang memiliki nilai-nilai yang palling dinilai tinggi dalam masyarakat, seperti prestise, kekayaan ataupun kewenangan.
Kategori kepemimpinan dapat dilakukan atas tiga kriteria, yaitu
a. Proses kepemimpinan dan karakter pemimpin
Proses kepemimpinan artinya kepemimpinan demokrasi yang menganggap kekuasaan dibagi dengan orang lain dan dilaksanakan untuk menghormati martabat pribadi manusia. Sedangkan Karakter politik, dibagi menjadi empat yaitu pasif-positif, aktif-negatif, pasif-negatif dan aktiif-positif.
b. Hasil proses kepemimpinan, dibagi menjadi dua yaitu ekstrimis (berupaya merubah semua rezim lama dengan rezim baru, sangat disiplin dan menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan), sedangkan moderat (masih mempertahankan rezim lama tapi disesuaikan dengan rezim baru, tidak terlalu disiplin, lebih menggunakan dialog daripada kekerasan dalam mencapai tujuan).
c. Sumber kekuasaan, dibagi tiga, yaitu kepemimpinan rasional (bersumber kewenangan legal, legalitas pola-pola peraturan normatif, hak orang-orang yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan perintah), kepemimpinan tradisional (berdasarkan pada kepercayaan, tradisi, legitimasi orang yang memiliki kewenangan berdasarkan tradisi yang dianggap keramat), kepemimpinan kharismatik (berdasarkan kekaguman masyarakat atas kelebihan yang dimilikinya).
Berdasarkan motif dan keterampilan pemimpin menggunakan kekuasaan, menurut Niccolo Machiavelli ada dua tipe kepemimpinan yaitu pemimpin tipe rubah ( foxes ) dan pemimpin tipe singa ( lions ).
Berdasarkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, menurut Burns ada dua tipe kepemimpinan yaitu kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformatif.

4. Partisipasi Politik
Partisipasi politik adalah keikutsertaan warga Negara biasa dalam menentukan keputusan yang menyangkut atau mempengaruhi hidupnya. Rambu-rambu dalam partisipasi politik yaitu: pertama, partisipasi politik berupa kegiatan atau perilaku luar individu warga Negara biasa yang dapat diamati bukan perilaku dalam yang berupa sikap dan orientasi. Kedua, kegiatan tersebut diarahkan untuk mempengaruhi pemerintah selaku pembuat dan pelaksana keputusan politik. Ketiga, kegiatan yang berhasil maupun yang gagal mempengaruhi pemerintah tetap termasuk dalam partisipasi politik. Keempat, kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Kelima, kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat dilakukan sesuai prosedur yang wajar maupun kekerasan. Keenam, kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat dilakukan atas kesadaran sendiri maupun atas desakan.

5. Tipologi Partisipasi Politik
Sebagai kegiatan, partisipasi dibedakan menjadi dua yaitu partisipasi aktif dan partisipasi pasif. Partisipasi politik aktif berarti kegiatan yang berorientasi pada proses input dan output, sedangkan partisipasi pasif hanya berorientasi pada proses output.
Milbrath dan Goel membedakan partisipasi politik memjadi beberapa kategori,yaitu:
a. Apatis yaitu orang yang tidak berpartisipasi dan menarik diri dari proses politik,.
b. Spektator yaitu orang yang setidaknya pernah ikut pemilihan umum.
c. Gladiator yaitu orang yang terlibat aktif dalam proses politik, misalnya: aktivis partai dan pekerja kampanye, komunikator, aktivis masyarakat
d. Pengritik yaitu dalam bentuk partisipasi tak konvensional.
Sedangkan menurut Olsen, membagi pertisipasi menjadi enam lapisan yaitu pemimpin politik, aktivis politik, komunikator, warga Negara, marginal, dan orang yang terisolasikan.
Partisipasi politik berdasarkan jumlah pelaku ada individual yakni seseorang yang menulis surat berisi keluhan da tuntutan kepada pemerintah atau kolektif, sedangkan kolektif adalah kegiatan warga Negara secara serentak untuk mempengaruhi penguasa. Partisipasi kolektif dibagi menjadi dua yaitu partisipasi kolektif yang konvensional (pemilu), dan partisipasi kolektif yang tidak konvensional atau agresif (pemogokan tidak sah, huru hara) , secara agresif dibagi lagi menjadi dua yaitu aksi yang kuat dan aksi yang lemah.

6. Model Partisipasi Politik
Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi-rendahnya partisiapasi politik ialah kesadaran politik, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga Negara. Dan kepercayaan kepada pemerintah, yaitu penilaian seseorang terhadap pemerintah.
Berdasarkan tinggi-rendahnya partisipasi politik, Paige membagi menjadi empat tipe,
a. Aktif, jika seseorang memiliki kesadaran dan kepercayaan yang tinggi terhadap pemerintah.
b. Apatis, jika seseorang memiliki kesadaran dan kepercayaan yang rendah terhadap pemerintah.
c. Militan radikal, kesadaran politik tinggi tetapi kepercayaan terhadap pemerintah sangat rendah.
d. Pasif, kesadaran politik sangat rendah tetapi kepercayaan terhadap pemerintah sangat tinggi.

7. Perilaku Memilih
Terdapat beberapa pendekatan untuk menjelaskan mengapa seseorang memilih atau tidak memilih, yaitu :
Pendekatan struktural melihat bahwa kegiatan memilih sebagai hasil dari konteks struktur yang luas seperti struktur sosial, sistem sosial, sistem pemilu, permasalahan, dan program yang ditunjukan oleh setiap partai. Pendekatan sosiologis, kegiatan memilih karena konteks social yaitu dipengaruhi latar belakang demografi dan sosial ekonomi, seperti jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan, kelas, pendapatan, dam agama. Pendekatan ekologis, kegiatan memilih seseorang dipengaruhi perbedaan unit teritorial, seperti desa, kelurahan, kecamatan, dan kabupaten, kelompok masyarakat seperti ras, suku, dan lain-lain. Pendekatan psikologis, seseorang memilih karena partai yang secara emosional dirasakan sangat dekat dengannya maka partai tersebut yang akan ia pilih tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain. Pendekatan rasional, kegiatan memilih mempertimbangkan untung rugi memilih seorang kandidat.
Keempat pendekatan tersebut beranggapan bahwa kegiatan memilih merupakan kegiatan otonom individu dalam artian tanpa desakan dari pihak lain, namun dalam kenyataan pemilih memilih karena ada paksaan dari pihak lain (kepala adat, pemuka agama, patroklien, pejabat pemerintah, polisi) yang dalam mempengaruhi tidak selalu berupa persuasi tetapi kadang berupa manipulasi, intimidasi, dan ancaman paksaan.

PERILAKU DAN PARTISIPASI POLITIK
Tugas Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik

Disusun oleh :
Nama : Hanifah Kristiyanti
NIM : D0310026
Jurusan : Sosiologi
Fakultas : ISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2010